05 December 2021 05:54 WIB
Oleh : aba

Teofimo Lopez Bisa Saja Mati di Atas Ring [Dalam Duél Lawan Kambosos]

TEOFIMO Lopez 'bisa saja meninggal' dalam pertarungannya yang keras dengan George Kambosos Jr setelah terkena  pneumomediastinum –suatu  kondisi yang bisa menyebabkan paru-parunya kolaps di atas ring.

Pneumomediastinum merupakan kondisi ketika udara terperangkap dalam mediastinum atau ruang yang berada di tengah paru-paru dan organ lainnya pada rongga dada, termasuk juga jantung. Hal ini terjadi akibat adanya trauma dan kebocoran di paru-paru atau saluran pernapasan.

Teofimo Lopez menyerahkan sabuk gelar kelas ringan WBA/IBF/WBO/WBA Franchise kepada Kambosos di Madison Square Garden, New York, 27 November, menyusul kekalahan angka split yang mengejutkan.

Lopez kehilangan gelarnya, namun beruntung ia lolos dari maut.

Lopez nampak berbeda ketika sebelumnya bertarung dan menang atas Vasyl Lomachenko. Banyak yang mengatakan ia terlalu percaya diri sehingga tidak melakukan persiapan secara maksimal. Ia menganggap remeh kemampuan Kambosos yang sejak awal bersiap diri habis-habisan.

Akibatnya, meskipun tidak mengalami cedera serius dari tampak luar, para dokter dan pakar kesehatan yang memeriksa Teofimo, mengonfirmasi betapa seriusnya kondisi ‘The Takeover’.

“Dia bisa saja mati, pasti,” kata Dr. Linda Dahl kepada ESPN, seorang otolaryngologist (THT) dengan hak istimewa bedah di tiga rumah sakit bergengsi di Manhattan.

“Bagaimana dia bernapas, saya bahkan tidak bisa menjelaskannya kepada Anda. Kondisinya seperti seseorang mengikatkan beban seberat 300 pon (136kg) di sekitar dadanya, seperti leher dan dadanya berada dalam posisi terbalik.”

“Begitulah saat ia bertarung.”

Lopez, 34 tahun, pernah kena asma di usia 6 tahun. Ia terkena Covid-19 pada Juni membuat duélnya tertunda sampai akhirnya bisa digelar pada November. Ia segera dikirim ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan pascakekalahan dari Kambosos. Dalam pemeriksaan CT-scan, Lopez diketahui mengalami extensive air di rongga lehernya.

Menurut laporan, masalah muncul setelah ia melakukan rehidrasi (pascatimbang badan) di restoran Carmine dimana dadanya menjadi sesak, napasnya menjadi tersengal dan lehernya mulai membengkak.

Sang ayah, Teofimo Sr, sempat bersikeras membawa Lopez ke rumah sakit, namun ia menolak karena khawatir pertarungan akan dibatalkan.

Lopez, 24 tahun, pada akhirnya memang bertarung cukup kuat, bahkan sempat menjatuhkan Kambosos Jr.

"Udara berada di sekitar dinding dadanya dan jantungnya serta lehernya - tempat-tempat di mana udara tidak seharusnya berada," kata Dahl, yang bekerja sebagai dokter di sisi ring untuk Komisi Olahraga Negara Bagian New York.

Menurut Dahl, pada kondisi seperti itu, jika sebuah pukulan telak menghantam leher atau dadanya. ia bisa saja pengalami gagal paru-paru atau pneumotoraks.

Jika itu terjadi, ia bisa jatuh dan untuk bernapas ia butuh bantuan tabung oksigen.

“Saya melihat hasil scan-nya pada Senin (29/11) seraya berkata, “syukurlah Anda masih hidup,'" KATA Dahl, dikutip dari talkSPORT.

Berita Terkait