14 October 2021 17:07 WIB
Oleh : aba

PON Papua Harus Jadi Kebangkitan Olahraga Nasional

IBARAT sajian dalam sebuah table manner, olahraga di Indonesia belum menjadi menu utama atau main course. Ia bisa jadi menu pembuka atau appetizer, bisa juga menu penutup atau dessert.

“Itu yang saya sadari setelah masuk dalam dunia olahraga Indonesia,” ujar Zainudin Amali, 59 tahun, Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia, kepada wartawan dalam acara Zoom Meeting dari Papua yang digelar Media Center Jakarta di JCC Senayan, Kamis (14/10).

Zainudin Amali menduduki jabatan sebagai Menpora sejak Oktober 2019.

“Makin masuk ke dalam, saya melihat dan merasakan, olahraga Indonesia memang belum jadi sajian utama, ia pelengkap saja,” ujarnya dalam Zoom Meeting yang juga dihadiri Ketua Umum PWI Pusat Atal Depari.

Olahraga Indonesia, harus diakui, memang tidak memperlihatkan tren membaik sejak gagal menjadi juara umum di SEA Games Bangkok 1985 –terlepas dari faktor nonteknis yang terjadi saat itu.

Sejak itu, di kancah Asia Tenggara, Indonesia hanya bisa menjadi raja ketika menjadi tuan rumah pada SEA Games 1987, 1997 dan 2011. Setelah SEA Games Jakarta/Palembang 2011, Indonesia selalu berada di luar 3 Besar.

Di level Asia, khususnya di Asian Games, Indoneia berada di posisi 2 ketika jadi tuan rumah Asian Games 1962 dengan 11 medali emas, 12 perak, dan 28 perunggu.

Setelah itu, Indonesia masih bisa di 10 Besar sejak Bangkok 1966 hingga Beijing 1990 –terlepas dari jumlah medali yang diperoleh. Setelah itu, mulai Asian Games Hiroshima 1994 hingga Incheon 2014, Indonesia berada di luar 10 Besar. Di Doha 2006, Indonesia yang merebut 2 emas bahkan berada di posisi 22.

Posisi terbaik Indonesia setelah itu tentu saja ketika menjadi tuan rumah Jakarta/Palembang 2018, di mana Indonesia menduduki peringkat 4 dengan 31 medali emas.

Apakah posisi itu akan bertahan di Hangzhou 2022?

Di tingkat Olimpiade, sejak mengawinkan emas tunggal putra-putri bulutangkis melalui Alan Budikusuma dan Susi Susanti, Indonesia berhasil mempertahankan tradisi medali emas, kecuali London 2012. Tapi, semua emas itu diperoleh dari cabang olahraga bulutangkis.

Panahan, yang sukses membuat nama Indonesia tercantum dalam daftar perolehan medali pada Olimpiade Seoul 1988 melalui Srikandi Nurfitriyana, Lilies Handayani, Kusuma Wardhani, hingga Olimpiade Tokyo 2020, belum lagi bisa menyentuh prestasi terbaik. Medali perunggu pun tidak.

Menarik jika Menpora menyebut PON XX Papua 2021 harus menjadi kebangkitan olahraga nasional. Intinya, olahraga harus menjadi menu utama, atau salah satu menu utama dalam konstelasi kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Di Indonesia, kata Menpora, banyak orang pintar dan intelek. Tapi, yang kita inginkan adalah orang pintar dan intelek yang sehat dengan olahraga. Lebih spesifik lagi, bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, harus cerdas dan punya prestasi olahraga.

Ini bisa jadi desain besar olahraga Indonesia yang harus melibatkan semua stakeholder olahraga Indonesia dengan semangat sukses PON Papua yang nampaknya cukup berhasil menghidupkan atmosfer olahraga nasional.

PON Papua, yang semula diragukan akan berjalan dengan baik, berhasil menjawab keraguan itu dengan catatan-catatan positif yang menakjubkan. Selain prestasi yang dicapai melalui kerja keras seluruh atlet, Papua juga menyodorkan venue-venue berstandar internasional yang harus bisa dimanfaatkan secara maksimal pasca-PON.

Indonesia punya venue-venue berstandar internasional di banyak daerah, khususnya mantan tuan rumah PON dan SEA Games. Kini di Papua. “Kita bisa gelar pertandingan-pertandingan nasional, regional, dan internasional di Papua,” kata Menpora.

Mendorong penyelenggaraan event olahraga Pasca-PON yang digelar di stadion-stadion di Papua itu juga dimaksudkan untuk menjaga dan merawat aset bangsa sekaligus menggerakkan semangat kebangkitan olahraga nasional.

* Catatan Aba Mardjani

Berita Terkait