24 March 2021 19:45 WIB
Oleh : eko

Menpora Tegaskan Olimpiade & Paralimpiade Sasaran Prestasi Utama

MENTERI Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali kembali menegaskan bahwa semua cabang olahraga di Indonesia harus menjadikan Olimpiade dan Paralimpiade sebagai tujuan utama prestasi. Sedangkan event yang skala di bawahnya seperti SEA Games dan Asian Games hanya dipakai sebagai sasaran antara.

 

"Sekarang kita belum fokus, kadang SEA Games jadi sasaran utama, kadang suatu waktu Asian Games. Maka, grand design utama adalah Olimpiade, sedangkan SEA Games dan Asian Games kita tempatkan di posisi sasaran antara," ujar Menpora Amali saat menjadi narasumber pada Seminar Olahraga Nasional yang digelar Siwo PWI Pusat secara virtual, Rabu (24/3).

 

Untuk saat ini, cabang yang mendapatkan prioritas mengejar prestasi di Olimpiade ada 14 cabang olahraga, yaitu bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, panahan, menembak, wushu, karate, taekwondo, balap sepeda, atletik, renang, senam artistik dan pencak silat. 

 

Sementara itu, untuk Paralimpiade, pihaknya menyebut lima cabang yang masuk daftar unggulan, yakni para badminton, para tabble tennis, para power lifting, para atletik dan para swimming.

 

"Kami tidak asal menaruh 14 cabor unggulan ini, tapi sebelumnya sudah dilakukan diskusi sangat panjang," kata Menpora Amali.

 

Untuk mengejar prestasi itu, Menpora memastikan semua atlet butuh perjuangan keras, bahkan bisa sampai 10 tahun atau 1.000 jam latihan. "Jadi tidak ada yang instan, by accident, tapi harus by design," terangnya.

 

Menpora juga mengaku telah mendapatkan tugas dari Presiden Joko Widodo untuk bergerak cepat mencari akar persoalan olahraga di negeri ini. Problem tersebut harus diurai agar prestasi olahraga nasional tidak stagnan dan terus membaik.

 

Setelah dipetakan, lanjut Menpora, ada 13 persoalan yang terjadi selama ini, antara lain partisipasi kebugaran jasmani masyarakat berolahraga masih rendah,  sarana dan prasarana olahraga masih terbatas dan belum memenuhi standar.

 

"Saat ditunjuk jadi penyelenggara Piala Dunia 2021 yang kemudian diundur 2023, kita merasa punya stadion berstandar, ternyata dilihat FIFA masih banyak renovasi agar sesuai standar FIFA," ujar Menteri Amali.

 

Persoalan lain yang disebutkan Menpora adalah sistem pembinaan olahraga prestasi belum dikembangkan dan dilakukan secara sistematis, terencana, berjenjang dan berkelanjutan. "Terkadang enam bulan atau satu tahun digekar pelatnas sebelum mengikuti kejuaraan. Jadi tidak mungkin hasilkan prestasi kalau tidak melakukannya secara sistematis, terencana dan berkelanjutan," ungkap Amali.

 

Persoalan lain adalah manajemen kompetisi belum berjenjang, rutin, berkelanjutan dan tidak sesuai dengan kelompok usia serta karakteristik cabang olahraga, keempat tenaga keolahragaan belum memenuhi secara kuantitas dan kualitas 18, sport science belum dijadikan sebagai faktor utama untuk mendukung prestasi olahraga dandukungan anggaran masih menjadi keluhan.

 

Selain itu, manajemen organisasi keolahragaan belum sepenuhnya dijalankan secara professional, kemudian profesi sebagai olahragawan belum sepenuhnya menjadi pilihan dan tidak ada jaminan masa depan purna prestasi. 

 

"Contohnya di SKO Cibubur, atlet dilatih di situ biar jadi atlet berprestasi. Tapi saya kaget ketika mereka ditanya setelah keluar dari situ, jawaban rata-rata ingin jadi angota TNI, Polri. Jujur bahwa ini belum ada jaminan," terangnya.

 

Masalah selanjutnya yang disebut Menpora adalah kurikulum Pendidikan Khusus Atlet belum ada, lalu Data base, Sistem Informasi dan analisis big data keolahragaan belum dilakukan, belum optimalnya peran BUMN dan Pemerintah Daerah  dalam mendukung atlet berprestasi serta masih kurangnya sinergitas dengan organisasi keolahragaan.

 

Persoalan-persoalan olahraga ini, juga Grand Design Olahraga Nasional telah disampaikan Menpora Amali saat Rapat bersama Komisi X DPR RI sehari sebelumnya. Grand Design dibuat untuj mencapai target jangka menengah dan panjang mulai tahun ini hingga 2045.

 

Dia mencontohkan, pada 2021 hingga 2024 targetnya adalah partisipasi siswa aktif berolahraga 10 persen, sedangkan masyarakat 40 persen. Pada Olimpiade Tokyo 2021, targetnya adalah Indonesia bisa masuk oeringkat 40 besar, sesangkan Paralimpiade 50 besar. 

 

 

Berita Terkait