20 March 2021 15:25 WIB
Oleh : eko

Erick Thohir : Kangen Bola!

HARI ini berita mengenai Erick Thohir dan bola di mana-mana, dari Jawa Tengah hingga ke Inggris. Dari Solo sampai Oxford.

Dikabarkan dalam pekan ini, konsorsium Indonesia, Erick Thohir dan Anindya Bakrie, menambah investasi dengan membeli saham milik pengusaha asal Thailand, Sumrith "Tiger" Thanakarnjanasuth sehingga menguasai 51 persen kepemilikan saham mayoritas klub kota London berusia 126 tahun itu. Berita yang dirilis media di Inggris, seperti oxfordmail.co.uk dan telegraph.co.uk, Jumat (19/3) sore, dalam seminggu ke depan konsorsium Indonesia itu akan menuntaskan transaksi pembelian saham, sekaligus mengajukan business plan untuk mendapat persetujuan dari English Football League. 

Sementara itu, berita yang pertama kali dilansir Solo Pos menyatakan bahwa klub legendaris kota Solo, Persis siap menatap musim kompetisi di Liga 2 mendatang dengan semangat yang benar-benar anyar. Klub yang pada tahun 2023 akan berusia 1 abad itu kedatangan manajemen baru yang digawangi darah muda dari kalangan milenial yang didukung sejumlah tokoh yang memiliki pengalaman dan kepedulian tinggi untuk membenahi manajerial klub, sekaligus membawa prestasi ke tingkat yang lebih tinggi.

Pada posisi Direktur Utama PT Persis Solo Saestu (PT PSS) duduk Kaesang Pangarep,, sedangkan Mahendra Agakhan Thohir, putera Erick Thohir menjadi Presiden Komisaris PT PSS. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT PSS di Hotel Atila, Solo, Sabtu (20/3). Ketetapan tersebut merupakan implikasi dari perubahan komposisi kepemilikan saham PT PSS.  

Pertanyaannya, mengapa Erick Thohir kembali agresif di kancah sepak bola, ternyata jawabannya singkat, “Kangen bola!”.

“Sebetulnya apa yang saya lakukan di Persis Solo dengan Oxford, tidak jauh berbeda. Memperbaiki manajemen, melakukan regenerasi, membuat keduanya lebih baik. Bukan hal yang mudah, tapi tidak ada yang tidak mungkin,” tambahnya.

Erick juga menjelaskan, “Khusus untuk Solo dan Aga, Aga mau mengikuti jejak ayah saya yang memulai perjuangan dari Solo. Solo adalah kota pertama ayah saya berjuang terpisah dari keluarga untuk sekolah.”

Berita Terkait