11 February 2021 09:28 WIB
Oleh : aba

Hidup Sehat di Éra Pandemi ala Ade Rai

BANYAK orang mengabaikan hidup sehat pada saat tubuhnya bugar. Orang baru merasa pentingnya sehat setelah dirinya sakit atau terkena penyakit.

Namun, di éra pandemi Covid-19 saat ini, kesadaran hidup sehat dan menjaga kesehatan menjadi penting karena manusia dihadapkan pada kemungkinan ikut terjangkit.

Hal itu diungkapkan binaragawan kondang Ade Rai ketika menjadi narasumber dalam webinar ke-3 yang digelar Alumni Kanisius Menteng 64, kelompok lulusan SMA Kanisius yg saat ini diketuai Irlan Suud. Webinar bertajuk ‘Hidup Sehat Alami di kala Pandemi’ ini digelar sebagai bagian dari kepedulian menjaga cita-cita Indonesia Emas pada 2045 dan Indonesia Sehat pada 2021.

Webinar dilaksanakan pada Rabu (10/2) malam dan diikuti oleh tak kurang dari 130 peserta yang sebagian besar merupakan alumni SMA Kanisius atau Canisian dan Sahabat Canisian.

Lebih lanjut, Ade Rai mengungkapkan, pendekatan kesehatan sifatnya tidak pernah reduktif, tapi menyeluruh. Sehat, katanya, adalah kemampuan kita menciptakan kesenangan pada badan kita.

Pada saat sehat, manusia cenderung sewenang-wenang terhadap tubuhnya karena saat itu tidak ada sense of urgency terhadap sehat. “Nah, begitu pandemi datang, kita dipaksa harus hidup sehat, harus menjaga kesehatan kita,” kata Ade Rai.

Sayangnya, keinginan untuk tetap sehat itu fondasinya bukan pada kepatuhan terhadap prinsip-prinsip  hidup sehat, tapi lebih pada ketakutan pada sakit atau bahkan kematian.

Kiat menjaga kesehatan disebutkan Ade, antara lain tetap menjaga silaturahmi karena manusia tak pernah bisa dilepaskan dari interaksi sosial. Namun, silaturahmi atau strong social connection bukan berarti kita boleh bertemu langsung, bersalaman, cium pipi kanan dan kiri. Acara-acara webinar juga menjadi salah satu medium efektif agar manusia tetap bisa bersosialisasi di éra pandemi.

“Makanya saya bersyukur bisa diundang di acara ini, melalui teknologi ini,” kata Ade Rai.

Shopping, bagi mereka yang punya kemampuan secara ekonomi, menurut Ade, juga menjadi bagian penting menjaga kebugaran tubuh melalui kesehatan psikis sepanjang tetap menjaga protokol kesehatan secara ketat.

Diakui Ade, selama masa pandemi ini, banyak orang mengalami kenaikan berat badan karena banyak makan dan kurang bergerak. Sayangnya, banyak orang yang kurang menjaga pola makan atau pola konsumsi sehingga terjadi resistensi insulin yang berisiko memunculkan berbagai macam penyakit yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah.

Jadi, saat di luar rumah, kita mungkin sudah menjaga protokol kesehatan dengan ketat agar tak terpapar virus corona. Namun, di dalam rumah, kita seperti melakukan sabotase terhadap tubuh kita dengan konsumsi makanan sembarangan yang berisiko memunculkan berbagai macam penyakit berat,

Karena itu Ade mengingatkan, “Jangan kita sibuk pada upaya tidak sampai terjangkit Covid-19, tapi di sisi lain esensi sehatnya kita nggak dapet.”

Esensi sehat pada dasarnya adalah bagaimana kita menjaga kesehatan, bukan mengobati penyakit. Mengobati penyakit saat ini cenderung menjadi gaya hidup.

Penyakit, atau opportunist, disebutkan Ade, selalu dimanjakan oleh tuan rumah yang ramah, yaitu tubuh kita yang at immunnya rendah.

Oportunist itu mengambil kesempatan pada tuan rumah yang ramah. Penyakit 90 persen masuk karena ulah kita, pola hidup buruk. Jika pola hidup kita baik, dia tidak bisa mengambil kesempatan.

Pada dasarnya tubuh manusia itu adalah yang paling canggih. Teknologi paling canggih adalah tubuh kita, di situ antara lain ada sistem immun, sistem adaptasi, dan lain-lain. Tubuh kita punya 6 triliun sel. Semuanya menjadi satu kesatuan melalui sistem saraf. Jika kita ceroboh pada tubuh kita, itu sama saja kita melakukan sabotase dari dalam sekaligus membuat sistem immun kita turun.

Ketakutan dan kecemasan berpengaruh. darah menjadi medium culture kita saat itulah sistem immun turun.

“Saya melihat ada kesakitan sosial dan budaya, sengaja atau tidak sengaja. Sebagai manusia, interaksi sosial sangat penting bagi manusia. Tapi, dengan situasi hari ini interkaisi sosial tidak memungkinkan karena ketakutan kita untuk terjangkit.

Tubuh menusia, dipaparkan Ade memiliki lima elemen utama yaitu Cairan, Organ Tubuh, Tulang, Otot Rangka, dan Lemak. Semuanya bekerja dengan teknologi yang supercanggih. Tapi, jika kita tidak bisa menjaganya dengan baik, kecerdasan tubuh kita menurun. Bukan salah tubuh kita, tapi merupakan buah atau konsekuensi dari investasi perilaku manusia itu sendiri.

Tubuh manusia juga bisa diibaratkan sebuah kamar. Jika Anda bawa makanan ke dalam kamar lalu secara sengaja atau tidak Anda buang sampah, lama-lama kamar Anda akan berbau.

Solusinya ada dua: membuang sampah dan menyemprotkan pewangi di dalam kamar.

Menyemprotkan pewangi pada dasarnya adalah upaya untuk menghilangkan bau, bukan membuang sumber bau. Membuang sumber bau juga bukan solusi yang baik. Solusi terbaik adalah membuat kamar tetap bersih.

Bertindak selaku moderator Webinar adalah Pitono Adhi, alumni CC’85, dengan pengantar Irlan Suud.

Irlan, alumni Kanisius Menteng 64, antara lain mengatakan, selain menggelar webinar dan talkshow, mereka juga menginisiasi gerakan “SuksesKanVaksinasi.

Berita Terkait