17 July 2020 16:11 WIB
Oleh : aba

Mencari Pemain Naturalisasi untuk Tim U-20 Ibarat ‘Menepuk Air di Dulang Tepercik Muka Sendiri’

Taufik Jursal Effendi.

PERLUKAH Indonesia melengkapi skuad U-20 dengan sejumlah pemain naturalisasi sehingga bisa lebih bersaing di Piala Dunia U-20, Mei-Juni 2021?

Pro dan kontra itu merebak dalam dua pekan terakhir.

Bagi saya, yang hampir 30 tahun berkutat dalam pembinaan pemain usia muda sampai saya dirikan Asosiasi Sekolah Sepakbola Indonesia (ASSBI), ini seperti pepatah lama ‘Menepuk Air di Dulang Tepercik Muka Sendiri’.

Mari kita longok kompetisi pemain usia muda seperti Piala Soeratin. Event ini saban tahun digelar, melibatkan 34 Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI di seluruh Indonesia.

Pertanyaan saya, apakah PSSI atau siapa pun yang terlibat secara langsung pada event itu, tidak memiliki basis data pemain terbaik kelahiran 2002-2003?

Dari sejumlah orang di federasi yang coba saya hubungi, tak ada yang bisa menjawab secara lugas. Jawabannya kadang muter-muter, kecuali Fachri Husaini dan mantan kapten Timnas Charis Julianto.

Belakangan, atau dua tahun terakhir, bukannya membereskan manajemén pengelolaan Piala Soeratin, malah muncul gagasan kompetisi Elite Pro. Klub-klub Liga 1 diberi kewajiban memiliki tim U-16 hingga U-19. Padahal, jangankan untuk membina tim junior, untuk mengelola tim utama saja manajemén tim banyak yang kedodoran.

Tapi, namanya kewajiban, manajemén tim di Liga 1 pun mengambil jalan pintas di tengah segala keterbatasan. Mereka comot pemain dari SSB-SSB dengan iming-iming masuk tim senior bila memiliki potensi dan bakat mumpuni serta pelatih tim Liga 1 tertarik.

Faktanya, begitu kompetisi Elite Pro yang lebih merupakan turnamen selesai, para pemain ‘dibuang’ atau dikembalikan ke SSB masing-masing. Atau disuruh mencari klub lain yang tertarik.

Artinya, dengan pola seperti itu, pemain muda seperti apa yang dihasilkan? Mereka tidak dibina sebagai asset masa depan sepakbola Indonesia, tapi lebih sebagai upaya memenuhi kewajiban dari federasi. Jangan aneh dan tak usah pusing jika Indonesia tak bisa mendapatkan pemain berkualitas baik dalam jumlah memadai dari ratusan juta penduduk.

Padahal, bila kita serius mau membina pemain muda, kita punya banyak pelatih muda yang bisa dilibatkan untuk memantau bakat-bakat pemain belia. Mencari pemain muda berbakat di Indonesia pasti tidak seperti ‘mencari jarum dalam tumpukan jerami’.

Kini, PSSI membentuk tim gugus tugas untuk pendataan dan seleksi pemain muda. Menurut saya, mestinya ini tidak dibebankan kepada 3-4 orang, melainkan banyak orang. Indonesia banyak memiliki pelatih dengan lisensi B AFC. Mereka bisa diberi kepercayaan.

Catatan Taufik Jursal Effendi
CEO Persija Barat FC

Berita Terkait