11 June 2020 09:57 WIB
Oleh : eko

Direktur ISCW: KOI Bisa Dibekukan Oleh Lembaga Olahraga International

INDONESIA Sport Corruption Wacth (ISCW) telah mengingatkan sejak 3 tahun silam kepada penyelenggara Keolahragaan Nasional agar berhati-hati terhadap semua kegiatan yang bersumber dari Dana APBN, terutama soal tindak korupsi yang melibatkan banyak pihak.

“Direktur ISCW Rudy Darmawanto sudah mengkritik baik lisan maupun tulisan terhadap para pelaku dan penyelenggara olahraga baik di event nasional dan international, baik yang di Kemenpora, KONI maupun Komite Olimpiade Indonesia atau KOI, untuk bertindak hati-hati menggunakan dana APBN,” ujar Juru Bicara (Jubir) ISCW Nanang Supriatna dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Kamis (11/6).

Nanang mencontohkan, dalam kasus kasus dana hibah KONI yang melibatkan mantan Menpora Imam Nahrowi adalah citra buruk Keolahragaan Nasional. Belum lagi kasus Satlak Prima yang mulai Minggu ini sudah disidik oleh pihak Kejaksaan dan akan menyusul kasus lain di lingkungan Menpora. Oleh karena itu, Nanang menegaskan, ISCW siap membantu KPK dan Kejaksaan untuk menuntaskan kasus-kasus tersebut.

Selain persoalan di atas, Nanang juga menyampaikan bahwa di lingkungan KOI juga ada oknum inisial FK yang kebetulan menduduki jabatan penting di KOI juga ikut melakukan dugaan gratifikasi dan KKN soal dana hibah yang namanya disebutkan sebagai fakta persidangan dalam sidang kasus dana hibah.

“Nama inisial FK juga banyak terlibat, dominan dalam permasalahan Asian Paragames yang sampai sekarang sedang diruntun oleh akuntan ISCW serta Sea Games Manila yang sampai sekarang tidak Jelas laporannya,” kata dia.

ISCW juga menemukan bukti baru di istansi lain dalam hal ini Menpora yakni sejumlah hal fiktif dan penguasaan keuangan negara direkening pribadi dalam kegiatan penghargaan atlet paragames

Menurut dia, kalau ini dibiarkan terus maka akan membawa citra lembaga KOI dan nama baik Ketum KOI menjadi rusak. Bahkan, dapat saja KOI dibekukan.

“Jujur kami prihatin kepada Ketum KOI dan pengurus KOI lainnya atas perilaku dan gaya adventurir (FK) dalam dunia olahraga. Bahkan apabila kasus ini dibiarkan, dalam waktu dekat, jangan kaget kalau KOI bisa di bekukan atau tidak diakui oleh lembaga olahraga internasional,” kata Nanang.

Atas dasar itu, Nanang mengatakan, ISCW tengah menyusun laporan monitoring bersama akuntan independen yang nantinya, hasil audit akan disampaikan kepada pihak terkait.

“Kami sedang menyusun laporan monitoring bersama akuntan independen. Dan hasilnya akan kami sampaikan kepada pihak terkait, baik ke BPK maupun KPK. Hal ini demi menegakkan kebenaran dan prinsip sportifitas Olahraga Nasional,” tuturnya.

Diketahui, dalam persidangan Miftahul Ulum, mantan asisten pribadi eks Menpora Imam Nahrawi mengungkap dugaan aliran uang kepada Anggota III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) berinisial AQ dan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung AT.

Dalam hal itu Ulum sampaikan saat menjadi saksi untuk Imam Nahrawi, terdakwa suap pengurusan proposal dana hibah KONI di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, pada Jumat, 15 Mei 2020 lalu seperti dikutip sebuah media online.

Lebih lanjut, Ulum bercerita untuk memenuhi kebutuhan permintaan uang itu ia meminjam sekitar Rp10 miliar. Menurut Ulum, pihak KONI dan Kemenpora sudah punya kesepakatan untuk memberikan sejumlah uang ke BPK dan Kejaksaan Agung guna mengatasi kasus yang membelit.

Berita Terkait