07 June 2020 11:45 WIB
Oleh : aba

Taufik Jursal: Ratu Tisha Nggak Ngerti Sepakbola

TAUFIK Jursal Effendi, yang lebih dari separo usia dihabiskannya untuk membina pemain sepakbola usia muda, meminta Ratu Tisha Destria, mantan Sekjen PSSI, tidak asal bicara soal bakat-bakat pemain di Indonesia.

Dikutip dari Kompas.com, Tisha mengungkapkan jumlah talenta sepakbola Indonesia tidak seperti ekpektasi masyarakat Indonesia kebanyakan. Banyak masyarakat Indonesia percaya, dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta lebih, tentu bakat-bakat sepakbola juga tak sedikit.

Tisha mengatakan, sumber daya yang dimiliki Indonesia tidak se-wah yang dibayangkan. Dari jutaan anak muda yang bermimpi menjadi pemain profesional, hanya segelintir yang mampu menembus level pemain elite usia muda.

Dari 250 juta penduduk di Indonesia, hanya ada 0,042 persen yang mampu tembus level pemain elite usia muda.

Berkaca dari gelaran Shopee Liga 1 2020, talenta muda di Indonesia memang minim. Jika mengaitkan dengan Piala Dunia U-20 2021 yang bakal bergulir di Indonesia, hanya 4,7 persen pemain yang berada di usia 20 tahun. Lebih tepatnya, hanya ada 22 pemain U-20 dari 424 pemain lokal yang terdaftar di Shopee Liga 1 2020.

Soal jam terbang, bisa dibilang tak ada 50 persen dari 22 pemain tersebut tak mendapat kepercayaan dari masing-masing pelatih

Menurut Taufik, persoalan sepakbola Indonesia bukan bakat, tapi pembinaan yang tidak berjalan sebagaimana seharusnya, apalagi sejak struktur organisasi PSSI berubah sejak 2004.

Klub-klub, katanya, juga babak belur sejak Perserikatan digabungkan dengan Galatama. Hal ini, kata Taufik, membunuh kompetisi berjenjang secara perlahan-lahan. Hal itu terbukti Indonesia tak pernah lagi bisa merebut medali emas di SEA Games sejak 1991.

Buktinya Sampai hari ini timnas tidak sanggup raih medali emas SEA GAMES (1991).

Ditambahkan Taufik, dalam pembinaan, ada satu faktor krusial yang perlu disadari. Talenta muda tidak akan berbuah maksimal tanpa adanya program pelatihan berkualitas, akurat, dan pelatih yang memiliki visi sepakbola modern saat ini (quality player by quality coaches).

Karena itu, jika pembinaan taj berjalan, bagaimana mungkin akan lahir pemain-pemain yang punya motivasi diri tinggi, punya rasa tanggung jawab besar, fokus tinggi, konsisten bekerja keras, dewasa berpikir, siap berkorban, punya daya tahan tinggi, tak punya rasa takut, dan dedikasi tinggi?

Ditandaskan Taufik, mestinya jangan salahkan rakyat Indonesia jika tak banyak bakat muda yang bisa mencuat ke permukaan jika PSSI sendiri tidak bisa melakukan pembinaan pemain muda secara berkualitas, rapi, terprogram, konsisten, jujur, bersih, dan banyak prasyarat lain.

"Ratu Tisha orang baru di sepakbola. Mendingan jangan asal ngomong kalau PSSI belum melakukan apa-apa," tegas Taufik.

Berita Terkait