27 May 2020 09:46 WIB
Oleh : aba

Wawancara Srisaket Sor Rungvisai: Bertekad Juara Kali Ketiga

Srisaket Sor Rungvisai (kanan) vs Roman `Chocolatito` Gonzalez.

SRISAKET Sor Rungvisai, 33 tahun asal Thailand, semula dijadwalkan bertarung April lalu. Namun, pandemi Covid-19 membuyarkan rencana itu. Meski demikian, mantan dua kali juara kelas layang super WBC ini tetap bertekad untuk membuktikan bahwa ia belum habis.

Berikut wawancara dengan Rungvisai melalui manajer sekaligus penerjemah Bank Thainchai.

Apa pengaruhnya bagi Anda di masa pandemi Covid-19 saat ini?
Ini situasi sulit bagi semua orang. Saya berharap Anda dan semua orang serta para petinju dan keluarga mereka tetap aman dan sehat. Saya tinggal di sasana NKL di Provinsi Nothaburi. Ini rumah saya selama bertahun-tahun. Jarak ke sasana dekat sehingga kami tak banyak melakukan aktivitas di luar rumah.

Apa komentar Anda soal pembatalan pertarungan April lalu?
Sangat disayangkan. Tapi, saya pahami situasinya. Bukan cuma saya, tapi yang lain pun mengalami hal serupa dan dari industri lain. Hal terpenting saat ini adalah menjaga kebugaran tubuh agar tetap siap saat situasinya kembali normal.

Anda tahu kapan duel akan dilaksanakan?
Pastinya akan terjadi duel [melawan Amnat Ruenroeng] ini. Kami masih menunggu pengumuman resmi.

Bagaimana Anda berlatih di masa pandemi ini?
Kami berlatih dengan apa yang kami sebut sasana tertutup. Untuk memastikan semuanya aman. Saya tak pernah lari di luar rumah, kami tak mendatangkan lawan sparing.

Apakah Anda masih di bawah kontrak Matchroom Boxing USA. Bagaimana rencana mereka ke depan?
Ya, saya masih di Matchroom. Mereka sepertinya sepakat duel [vs Ruenroeng] digelar di Thailand. Saya kini memegang tiket lawan wajib WBC atas juara dunia Juan Francisco Estrada. Jadi, saya menantikan trilogi. Fokus saya kesana. Estrada dan [Roman Gonzalez] Chocolatito adalah juara yang hebat. Saya senang sekali bertarung dengan salah satu dari mereka.

Mana kemenangan terbaik sepanjang karier Anda, siapa petinju terbaik yang pernah Anda hadapi?
Chocolatito. Ia petinju terbaik pound-for-pound saat itu. Itu kehormatan besar bisa mengalahkannya. Estrada, Carlos Cuadras, dan Chocolatito adalah petarung luar biasa.

Anda punya niat naik ke kelas bantam?
Saya fokus di kelas layang super dulu.Masih banyak petinju hebat di sana. Kami mungkin bisa menciptakan legasi lebih besar kami dengan petinju-petinju jebat lainnya. Saya juga ingin jadi juara dunia lagi, tiga kali juara dunia. Itu luar biasa.

Anda punya keinginan bertarung di Inggris?
Ya, Inggris negeri hebat. Saya akan senang jika suatu saat bisa naik ring di Inggris. Tapi, dalam waktu dekat, saya masih fokus dengan pertarungan di Amerika Serikat.

Jika mundur nanti, Anda ingin dikenang sebagai apa?
Saya ingin menjadi inspirasi bagi orang lain. Saya berangkat dari pemulung, jadi saya ingin membangun legasi sekaligus jadi inspirasi,, bahwa dalam hidup tak ada yang tak mungkin.

Rungvisai merenggut sabuk gelar kelas layang ringan WBC setelah menang TKO ronde 8 atas Yota Sati, Mei 2013. Namun, gear itu lepas setelah kalah angka teknis dari Carlos Cuadras, Mei 2014.

Ia merebut sabuk gelar kelas layang ringan WBC kembali setelah menang angka mayoritas atas Chocolatito, Maret 2017. Penasaran dengan kelalahan itu, Chocolatito memnuntut rematch. Namun, dalam rematch 9 September 2017, Rungvisai menang KO ronde 4.

Terakhir, ia kalah angka dari Estrada, April 2019, sekaligus kehilangan gelar.

Berita Terkait