17 April 2020 13:24 WIB
Oleh : aba

Virus Corona Membuat Para Petarung Muay Thai Kelimpungan

BERLATIH menggunakan topeng, terpisah dua meteran, para petarung Muay Thai profesional Thailand kini berjuang menghadapi kenyataan baru –gedung  olahraga yang tertutup dan turnamen yang dibatalkan setelah pandemi virus Corona menghantam dan tiba-tiba membuat mereka kehilangan pekerjaan.

Itulah antara lain yang dialami Sarawut Prohmsut, mantan juara dunia. Ia masih terus berlatih tanpa tahu kapan bisa bertarung. Menendang ruang kosong, melakukan jab secara bayangan. Kosong sekosong masa depannya.

"Bagaimana Anda bisa bertanding dalam kondisi seperti sekarang? Kami kehilangan sensasi kekuatan, tanpa adrenalin," ujar Prohmsut, 23, kepada kantor berita AFP di Luktupfah Muay Thai Gym di Bangkok.

Prohmsut menerima bayaran antara 20 hingga 30 ribu baht per bulan dari turnamen-turnamen yang diikutinya (setara Rp9,3 juta hingga Rp13,9 juta). Uang itu biasa ia kirim untuk keluarganya di rumah.

Namun, sumber mata pencaharian itu tiba-tiba menguap setelah turnamen dan stadion Muay Thai paling dulu ditutup sejak awal Maret menyusul ditemukannya orang yang terinfeksi virus corona.

Tanpa penghasilan, banyak petarung pulang kampung di mana latihan juga dihentikan.

"Dalam satu malam semuanya berhenti," kata Somiong, 24, petarung etnis Karen yang terpaksa pulang ke Kanchanaburi.

Somiong dan Prohmsut bersama jutaan orang lainnya kehilangan pekerjaan karena virus yang menghantam turisme Thailand, dunia entertainmen, dan industri kuliner.

Pemerintah Thailand berjanji memberikan uang sebesar 5 ribu baht atau setara 150 dolar AS (Rp2,3 juta) kepada mereka yang menjadi pengangguran per bulan selama pandemi.

Namun, para petarung Muay Thai, atau petarung bela diri lain yang tak memegang lisensi tertentu, tak termasuk sebagai penerima bantuan itu seperti dikatakan Jade Sisisompan dari World Muay Thai Organization sekaligus co-owner Luktupfah Gym.

"Itu dengan cepat menjadi bencana besar," kata Sisisompan. "Kebanyakan mereka bertarung sejak kecil dan mereka bisa melakukan pekerjaan lain."

"Kini saya tak bisa memberikan uang untuk orang tua saya," kata Somiong  sembari membantu ibunya memanen ketumbar di Kanchanaburi.

Berita Terkait