23 December 2019 13:05 WIB
Oleh : eko

Ada Apa dengan Promotor HJSC 2019?

Catatan Ali Redha Manajer Tim Bank bjb Delta Garage Racing Team:


KEJANGGALAN terjadi dalam balapan Honda Jazz Speed Challange dalam rangkaian seri ISSOM 2019

Honda Speed Challange adalah salah satu balapan touring roda empat yang diperlombakan di Sirkuit Sentul dan salah satu slot balapan yang cukup bergengsi serta sangat diminati oleh para pebalap senior sampai pembalap junior.

Honda Speed Challange memperlombakan 2 kategori di dalam ajang balapan ini, yaitu Honda Jazz Speed Challange (HJSC) dan Honda Brio Speed Challange (HBSC). Yang dimana HJSC telah memasuki Musimnya yang ke 14 dan HBSC memasuki musimnya ke 7 sehingga dapat dikatakan bahwa Honda Speed Challange adalah salah satu ajang balapan klub event yang sangat diminati para pebalap indonesia.


Honda Speed Challange pun memang salah satu pengisi slot balapan klub event yang selalu menjadi langganan slot ajang balapan roda empat di Sirkuit Sentul dikarenakan memiliki banyak peminat serta mendapatkan dukungan dari salah satu pabrikan kendaraan roda empat ternama asal negeri Jepang, yaitu Honda Prospect Motor. Jadi Honda Speed Challange pun menjadi balapan bergengsi di sirkuit Sentul. 


Kami Tim Bank bjb Delta Garage pun menjadi sangat tertarik terhadap balapan kendaraan roda empat itu dikarenakan alasan tersebut diatas, kami merasa Honda speed challange ini adalah balapan bergengsi karena ada beberapa nama pebalap profesional yang ikut dalam kejuaraan klub event itu. Akhirnya kami pun menjadi peserta di 2017 sebagai salah satu tim peserta sampai 2019 dan di 2018 kami mendapatkan beberapa prestasi yang cukup baik.

Pebalap kami Avan Abdullah mengikuti Kejuaraan Klub event ini mendapatkan gelar juara di kelas Rising star HJSC dan Reyno Romein juara di kelas Rookie HBSC serta dinobatkan sebagai tim Terbaik 2018 di ajang balapan Honda Jazz Speed Challange.


Prestasi kami di 2018 sebagai pelecut buat kami untuk terus berkompetisi di klub event ini dan pembalap kami Avan Abdullah untuk mengikuti kelas Master di HJSC dikarenakan HJSC kelas Master adalah kelas yang diisi oleh pebalap nasional serta tim pabrikan.

Tim pabrikan adalah tim yang disponsorin oleh pabrikan Nasional kendaraan roda empat Honda Prospect Motor serta dealer mobil Honda.


Ada yang menarik dari kejuaraan Honda Speed Challange di 2019 ini khususnya di HJSC kelas Master pada seri 4,6 dan 7. Yang menarik adalah HJSC kelas master seri 4 diwarnai protes dari pebalap tim S racing Fino Saksono terhadap pebalap tim Banteng Motorsport Zharfan Rahmadi karena diduga Zharfan Rahmadi melakukan waving dan menimbulkan polemik dimana jawaban protes fino saksono diterima dan dikabulkan oleh IMI Jabar tetapi selang beberapa waktu keluar putusan panel banding yang menolak protes Fino Saksono sekaligus dengan demikian membatalkan keputusan IMI Jabar.

Hal yang janggal karena keputusan panel banding dibuat oleh badan yang mana levelnya tidak lebih tinggi daripada IMI Jabar dan secara absurd juga tidak membatalkan keputusan IMI Jabar. Kedua putusan ini memiliki sifat saling bertentangan. 

HJSC pada seri 6 terjadi kecelakaan besar yang menimpa 5 pebalap dan membuat 5 pembalap tersebut tidak bisa melanjutkan balapan. Pada kecelakaan tersebut diduga akibat pembalap Zharfan Rahmadi dari Tim Banteng Motorsport menabrak (dari belakang)menyundul pembalap dari Tim NRB M. Arief sehingga Promotor menetapkan secara resmi Zharfan Rahmadi bersalah terkait insiden tersebut dan mendapatkan pemotongan poin 25 poin akibat melanggar 2 aturan peraturan balap HJSC pasal 11.11 dan 11.12. 

Sehingga yang pada saat itu posisi klasemen dipuncakin dipimpin oleh Zharfan harus rela tergusur perolehan standing point oleh pembalap Tim Bank bjb Delta Garage Racing Team Avan Abdullah.

Yang menjadi permasalahan dari pemotongan ini adalah: (1) pemotongan dilakukan oleh Promotor dengan segala kewenangannya untuk memberikan pemotongan poin (2) kewenangan ini seharusnya tidak dapat diintervensi oleh pihak ketiga maupun pihak eksternal lainnya (3) tidak adanya benturan kewenangan antara pengawas lomba (IMI/Steward) dalam hal kaitannya dengan pemotongan poin karena kewenangan pengawas lomba hanyalah menentukan adanya racing incident atau tidak (4) Promotor memiliki kewenangan untuk menginterpretasikan dan melaksanakan isi peraturan balap HJSC tanpa dapat diintervensi oleh pihak manapun. 


Pada HJSC seri 7 BSD Grandprix adalah seri perebutan juara umum HJSC kelas master dikarenakan akibat pemotongan 25 point Zharfan Rahmadi membuat Avan Abdullah memimpin 8 point. Terkait perbedaan point tersebut maka seri 7 ini adalah pertarungan penentuan juara umum antara Zharfan Rahmadi dengan Avan Abdullah. Pada QTT avan Abdullah mengungguli Zharfan Rahmadi sehingga peluang Avan Abdullah menjadi Juara Umum sangat besar.

Tetapi pada Minggu pagi sebelum start Avan Abdullah dipanggil untuk menghadap Bapak Anondo Eko Ketua IMI DKI Jakarta selaku manajer Event Honda Speed Challange dan Bapak Anthony Sarwono memberitahukan pemotongan Point Zharfan Rahmadi dibatalkan sehingga walaupun Avan Abdullah finish sebagai juara seri 7 tidak akan menjadikan Avan Juara Umum HJSC kelas Master.


Kami disini menyoroti kejanggalan yang terjadi diantara 3 seri tersebut yang seolah-olah ada dugaan keberpihakan promotor ke salah satu tim peserta/pebalap terkait beberapa keputusan yang tidak rasional ini. 


Berdasarkan hal tersebut diatas, Kami Tim Bank bjb Delta Garage Racing Team menyatakan sikap kecewa terhadap profesionalitas Promotor Honda Speed Challange terkait ajang HJSC kelas master yang merugikan kami dan pembalap kami Avan Abdullah serta para sponsor tim kami.


Kami sangat kecewa terhadap pemanggilan pebalap kami Avan Abdullah terkait pemberitahuan pembatalan point Zharfan Rahmadi karena sangat tidak etis prosedur pemanggilan tersebut dilaksanakan 1 jam sebelum dilaksanakan race. 


Kami mempertanyakan kejanggalan-kejanggalan substansial terkait dengan tidak konsistennya tindakan promotor dalam memotong poin Zharfan Rahmadi dimana pemotongan yang dilakukan oleh Promotor pada seri 6 dianggap dibatalkan pada seri 7. Dalam jangka waktu dari seri 6 ke seri 7, tidak adakah mekanisme -mekanisme yang transparan yang dapat menjelaskan berubahnya keputusan promotor tersebut diatas? 


Selanjutnya, mempertimbangkan masukan kami terkait kewenangan (power of authority) dari promotor dalam memotong poin (sekaligus membatalkannya) Sdr. Zhafran Rahmadi, kami dengan ini mempertanyakan, apakah dasar dan kewenangan Promotor untuk membatalkan pemotongan angka tersebut setelah promotor mempublikasikan pemotongan angka ke khalayak ramai dan pembatalannya dilakukan secara satu arah secara privat dan diam-diam ke pebalap kami (Avan Abdullah).

Sangat mengherankan, saat mengumumkan pemotongan poin pada seri 6, promotor mempublikasikan secara luas pemotongan tersebut dan saat membatalkannya, pada seri 7 promotor hanya 'membisikannya' secara diam-diam kepada salah satu pebalap (Avan Abdullah) tanpa diketahui secara luas. Kenapa hal ini terjadi? 


Kami akan meminta pernyataan penjelasan secara terbuka dan secara tertulis dari Promotor Honda Speed Challange di hadapan para awak media terkait (i) kewenangan dan dasar hukum yang digunakan saat melakukan pemotongan poin Zhafran pada seri 6 (ii) kewenangan dan dasar hukum yang digunakan saat membatalkan pemotongan tersebut diatas pada seri 7  (iii) alasan mengapa saat memotong poin pada seri 6, dilakukan publisitas secara luas dan saat membatalkannya pada seri 6 dilakukan secara diam-diam dan senyap sekaligus menjelaskan mengapa menungu dari seri 6 s/d seri 7 untuk melakukan pembatalan (iv) mengapa semua proses ini tampaknya tidak transparan.untuk penetapan Zharfan Rahmadi menjadi juara umum HJSC kelas Master.


Kami meminta IMI Pusat selaku induk olahraga kendaraan bermotor untuk mengusut hal ini serta dapat memberikan sanksi kepada promotor terhadap hal yang telah terjadi karena melaksanakan ajang balapan yang tidak menjunjung tinggi sportifitas serta telah menyebarkan berita hoaks terkait pengumuman standing point, pengumuman pernyataan bersalah Zharfan Rahmadi serta pemberitaan pengumuman pemotongan point Zharfan Rahmadi sehingga kami menganggap promotor telah melakukan perbuatan yang merugikan bukan hanya kepada tim kami namun kepada komunitas dunia balap nasional akibat tidak konsistennya sikap promotor dalam menjalankan kewenangannya.

Adalah wajar bagi kami menduga-duga adanya intervensi yang membuat promotor menjadi tidak konsisten dan cenderung mudah dipengaruhi dalam membuat keputusan.

Kami tidak melihat integritas serta konsistensi promotor dalam me-manage lomba balap HJSC serta menegakkan hukum atau aturan yang merupakan kewenangan promotor.


Kami juga meminta IMI Pusat dapat menjadi para tokohorganisasi yang netral serta meyelamatkan nilai sportifitas dalam balapan kendaraan roda empat ini dan menjadi induk yang dapat menaungi para pembalap nasional. IMI Pusat juga harus menyatakan bahwa kewenangan pemotongan (serta) pembatalannya adalah mutlak otoritas dari Promotor sebagai pelaksana dan adminsitrator HJSC. Dengan demikian, Promotor dapat memberikan klarifikasi dan transparansi mengenai tindakan dan keputusan -keputusan yang telah dibuatnya. 


Jika Zharfan Rahmadi ditetapkan sebagai juara umum HJSC kelas Master dengan dasar bahwa pemotongan poin pada seri 7 adalah valid dan promotor telah “menjilat ludahnya sendiri” dengan membatalkan keputusan pada seri 6, maka kami akan melaksanakan mengambil langkah resmi ke segala induk olahraga di tingkat regional maupun internasional, termasuk ke FIA, yang mengayomi olahraga ini untuk mengusut segala kejanggalan yang terjadi demi menjaga nilai sportifitas serta menindak oknum-oknum yang merusak sportifitas balap mobil di Indonesia. Kami juga siap apabila kami harus mengambil langkah-langkah hukum untuk melindungi kepentingan kami dan sebagai bentuk perjuangan mendapatkan keadilan serta kepastian hukum.    


Demikian pernyataan resmi kami dari Tim Bank bjb Delta Garage Racing team terkait hal yang merugikan pada ajang Balap klub Event Honda Speed Challange.***

Berita Terkait