07 December 2019 17:10 WIB
Oleh : eko

(SEA Games XXX/2019 Filipina) 2 Emas dari Tenis Ganda Putri & Campuran

TENIS kembali menyumbangkan medali emas bagi Kontingen Indonesia di ajang SEA Games XXX/2019 Filipina, Sabtu(7/12).

Emas pertama dirahasiakan ganda putri Indonesia Beatrice Gumulya dan Jessy Rompies terkejut mendengar kabar bahwa mereka berhasil mengakhiri 14 tahun paceklik medali emas dari tenis ganda putri SEA Games.

Sebelum Beatrice/Jessy mendapatkan medali emas pada hari ini, Sabtu, prestasi itu terakhir kali diraih ganda putri Wynne Prakusya dan Romana Tedjakusuma di SEA Games 2005.

"Wah, baru tahu juga terakhir kali emas tahun 2005. Kami tentu saja senang dengan hasil ini," ujar Beatrice di Kompleks Olahraga Rizal Memorial, Manila, Filipina.

Menurut Beatrice, apa yang dia raih bersama Jessy memang sudah ditargetkan sebelumnya.

Apalagi, persiapan mereka memang cukup matang untuk menghadapi SEA Games 2019, termasuk mengikuti beberapa turnamen internasional yang levelnya lebih tinggi dari SEA Games.

Meski demikian, langkah Beatrice/Jessy merebut emas SEA Games 2019 tidaklah mudah. Di partai final, mereka harus menghadapi unggulan kedua asal Thailand Peangtarn Plipuech/Tamarine Tanasugarn.

Tamarine, yang sudah berusia 42 tahun, merupakan pemain berpengalaman yang mendapatkan medali emas SEA Games tahun 1995.

Dalam pertandingan itu, Beatrice dan Jessy sempat kesulitan di beberapa kesempatan, tetapi mereka akhirnya memenangkan pertandingan dengan skor 6-3 dan 6-3.

"Kami harus bermain agresif, berani dan percaya diri. Kami yakin apapun hasilnya dalam pertandingan tadi itulah yang terbaik," kata Jessy Rompies.

Medali emas dari Beatrice/Jessy menjadi yang kedua untuk Indonesia di cabang olahraga tenis setelah pada Jumat (6/12) Aldila Sutjiadi menjadi yang terbaik di nomor tunggal putri.

Emas kedua diraih ganda campuran Christopher Rungkat/Aldila Sutjiadi berhasil merengkuh medali emas tenis ganda campuran SEA Games 2019 usai melewati laga dengan "super tie-break" kontra wakil Thailand Sanchai Ratiwatana/Tamarine Tanasugarn di partai final, Sabtu.

Dalam laga yang berlangsung di Kompleks Olahraga Rizal Memorial, Manila, Filipina, Christopher/Aldila sempat tertinggal di set pertama sebelum memenangkan pertandingan dengan skor 4-6, 6-4 dan 10-8.

"Kami selalu positif dan fokus poin demi poin. Apalagi, di super tie-break kesempatannya 50:50 dan kami tidak boleh kehilangan satu bola pun. Namun, akhirnya kami bisa unggul dan memenangkan super tie-break itu," ujar Aldila usai pertandingan.

Sementara Christo, panggilan akrab Christopher mengakui bahwa dia dan Aldila bermain solid saat super tie-break.

Di fase terakhir pertandingan itu, Christo/Aldilla sempat tertinggal 4-5 sebelum akhirnya "tancap gas" dan menang 10-8.

"Di set pertama saya sedikit gugup dan merasa energi saya kurang. Namun, di set kedua dan super tie-break kami bermain cukup solid. Kami beradaptasi dengan taktik lawan," tutur Christo.

Kemenangan Christo/Aldila membuat tim tenis Indonesia total mengumpulkan tiga medali emas dan dua medali perunggu di SEA Games 2019.

Selain dari Christo/Aldila, emas Indonesia datang dari Aldila Sutjiadi (tunggal putri), Beatrice Gumulya/Jessy Rompies (ganda putri). Sementara perunggu dari Priska Madelyn Nugroho (tunggal putri) dan David Agung Susanto/Beatrice Gumulya (ganda campuran).

Prestasi itu membuat tim Indonesia menjadi juara umum di tenis SEA Games 2019.

Catatan medali tersebut juga lebih baik dibandingkan SEA Games sebelumnya tahun 2017, dimana Indonesia hanya meraih satu medali emas dan satu medali perak.

Sementara di nomor ganda campuran, emas dari Christo/Aldila menjadi yang pertama sejak SEA Games 2003. Ketika itu, emas direbut oleh Suwandi dan Wynne Prakusya

Berita Terkait