15 October 2019 10:55 WIB
Oleh : aba

Voters Berdaulat di Kongres PSSI, 2 November, Bisakah Berjalan?

La Nyalla Mattalitti.

KOMITE  Pemilihan (KP) PSSI telah melakukan verifikasi terhadap nama-nama yang mendaftar sebagai calon ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota Exco PSSI periode 2019-2023. Proses selanjutnya akan terus berjalan sampai tiba waktunya kongres digelar, sebagai penentu masa depan PSSI hingga 5 tahun mendatang.

Kongres PSSI rencananya digelar 2 November di Jakarta.

Salah satu calon ketua PSSI La Nyalla Mattalitti mengatakan, sejatinya perubahan PSSI dan sepakbola nasional ada di tangan voters. Dengan hak suaranya di kongres, merekalah yang akan menjadi penentu hitam putihnya sepakbola negeri ini. Voters-lah yang memilih 15 pejabat elite PSSI untuk periode 2019-2023 --ketua umum, 2 wakil ketua umum, dan 12 Exco.

"Kedaulatan sepakbola sesungguhnya memang dimiliki voters. Walaupun kenyataan lebih sering memperlihatkan sebaliknya. Dengan kata lain, kebanyakan voters kurang berdaulat dengan suaranya. Ini momentum untuk menunjukkan bahwa voters PSSI kini lebih berdaulat," ujar La Nyalla, Selasa (15/10).

Tidak bisa dipungkiri, banyak voters yang lebih sering dan senang ditarik ke sana-sini oleh calon pemimpin maupun incumbent PSSI. Dirayu, diiming-imingi, dimanfaatkan, dan pada akhirnya voters itu sendiri menikmati dan memanfaatkan posisinya saat diboyong ke sana-kemari.

Namun demikian, diakui La Nyalla, masih ada voters yang teguh berdaulat dengan suaranya. Tapi jumlahnya tidak banyak. Kebanyakan memilih pragmatis. Larut dengan cara-cara yang sudah dianggap kebiasaan alias transaksional. Bahasa pasarnya; 'wani piro?' Sebuah pola pikir dan kebiasaan yang menurutnya akan membuat sepakbola bakal jauh dari perubahan.

"Kebiasaan transaksional secara otomatis akan menggiring pilihan voters bukan berdasarkan logika dan nurani sepakbola untuk perubahan, tapi cenderung menjadi pilihan praktis dan hanya demi keuntungan sesaat atau keuntungan kelompok. Jika menyangkut besaran nominal uang, anggap saja motif hadir ke kongres hanya semacam mencari gaji ke-13, ke-14, dan seterusnya," terang pria yang juga Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia tersebut.

Jadi, bagaimana agar sepakbola Indonesia bergerak ke arah perubahan?

Menurut La Nyalla, itu hanya bisa diraih jika voters kembali berdaulat dengan suaranya. Voters yang tidak semata-mata mengutamakan transaksional. Tapi voters yang peka dan responsif dengan keinginan perubahan di PSSI dan sepakbola nasional yang kini bergema di kalangan publik sepakbola sendiri.

"Voters harus memilih Ketum, Waketum dan Exco yang membawa aspirasi perubahan. Harus idealis. Bukan justru mencari kesempatan untuk mendapat keuntungan pribadi dengan 'bertransaksi' suara," tegasnya.

Tapi, bisakah?

Berita Terkait