22 August 2019 16:02 WIB
Oleh : eko

Meski Situasi Papua  Panas, KPSN Tetap Lanjutkan Ekspedisi

TERINSPIRASI oleh semboyan Ir Soeratin Sosrosoegondo, pahlawan nasional dan pelopor sepak bola Indonesia bahwa sepak bola sebagai alat pemersatu bangsa, Ketua Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN) Suhendra Hadikuntono menyatakan akan tetap melanjutkan ekspedisi ke Papua meskipun situasi di sana sempat memanas.

Suhendra segera mengunjungi bumi Cendrawasih itu untuk membagi-bagikan bola kepada warga di sana yang memang dikenal sebagai pecinta fanatik sepak bola.
“Kita akan lanjutkan‘Ekspedisi KPSN Papua 2019’ dalam waktu dekat. Sekali layar terkembang, surut kita berpantang,” ungkap Suhendra di Jakarta, Kamis (22/8/2019).

Hal tersebut, kata Suhendra, juga untuk membuktikan kepada dunia luar bahwa situasi di Papua dan Papua Barat sudah terkendali, sehingga investor pun tak perlu takut untuk menanamkan modalnya di Indonesia, khususnya di Papua dan Papua Barat. “Ini penting untuk membuktikan kepada dunia bahwa Papua dan Papua Barat tetap aman dan terkendali dalam bingkai NKRI,” tegasnya.

Ekspedisi ini juga untuk memenuhi undangan Rocky Bebena dari Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Papua.

Sebelumnya, KPSN menggelar “Ekspedisi KPSN Aceh 2019” dan “Ekspedisi KPSN Borneo 2019”. Setelah Aceh dan Kalimantan, ekspedisi berlanjut ke Papua.

Ya, di tengah situasi Papua dan Papua Barat yang sempat bergejolak, KPSN tetap hendak berekspedisi ke pulau di ujung timur Indonesia itu untuk meredam situasi. “Orang Papua itu sangat cinta sepak bola, dan sepak bola itu alat pemersatu bangsa,” ujar Suhendra.

Sebagai pecinta sepak bola, jelas Suhendra, masyarakat Papua terbukti telah melahirkan banyak pemain sepak bola nasional ternama, atau sering disebut “mutiara hitam”, antara lain Johannes Auri, Metu Duamuri, Robby Binur dan Boaz Solossa. “Jangan salah, Papua itu gudangnya pemain sepak bola berbakat yang mampu memperkuat Timnas. Bahkan Papua layak disebut sebagai Brasil-nya Indonesia. Dengan bangga memiliki banyak pemain di Timnas, mereka pun akan bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia,” cetus Suhendra yang juga pendiri Hadiekuntono’s Institute (Research-Intelligence-Spiritual).

Di mana pun di dunia ini, lanjut Suhendra, ketika konflik politik bahkan konflik bersenjata terjadi, sepak bola tetap terus berjalan. “Itu membuktikan bahwa sepak bola itu netral, bahkan bisa menjadi alat perekat persatuan dan kesatuan bangsa,” tandasnya.

Berita Terkait