22 July 2019 07:37 WIB
Oleh : eko

Li Na Optimistis di Masa Mendatang Lebih Banyak Petenis Cina Raih Gelar Grand Slam

zee

MANTAN petenis  asal China, Li Na mengatakan pagelaran final WTA di Shenzen, Cina akan menginspirasi para petenis asal Negara Tirai Bambu itu untuk menjadi petenis top dunia di masa mendatang.

Menurutnya, kedepannya bukan tidak mungkin Cina akan lebih banyak lagi melahirkan juara turnamen Grand Slam seperti dirinya.

Ia mengatakan laga tenis terakbar itu di Cina akan menjadi penyemangat terutama para petenis muda untuk berprestasi.

"(Menjadi tuan rumah turnamen terbesar di dunia tak hanya baik untuk para penggemar tenis, tapi juga yang lebih penting bagi para atlet, terutama para atlet muda," kata juara Grand Slam dua kali itu kepada Reuters dalam sebuah wawancara pada Kamis.

"Mereka tak hanya menyaksikan langsung kiprah pemain top dunia tak hanya ketika bertanding di lapangan tetapi juga di luar lapangan, terutama kiprah mereka sebagai petenis profesional."

Bersama Naomi Osaka  dari Jepang, Li Na saat ini merupakan petenis terbaik dari Kawasan Asia yang pernah meraih gelar Grand Slam. Cina saat ini memiliki empat petenis putri di peringkat 100 teratas dunia tetapi sayangnya tidak ada petenis putra yang berada di peringkat 200 teratas.

Tidak mengherankan, jika  Li mengatakan kemungkinan besar nantinya ada petenis lainnya dari negaranya yang memenangkan Grand Slam berikutnya.

"Saya pikir pihak wanita jauh lebih mudah karena setelah saya memenangkan Grand Slam, gadis-gadis muda berpikir mereka dapat melakukan hal yang sama," katanya. "Untuk para pria, itu agak sulit."

Li yang kini berusia 37 tahun memutuskan pensiun pada 2014 setelah berjuang melawan cedera lutut selama beberapa tahun.

Li tidak pernah berhasil melewati perempat final di rumput Wimbledon, gelar Grand Slam-nya datang dari tanah liat di Prancis Terbuka 2011 dan lapangan keras di Australia Terbuka 2014.

Ia juga pernah gagal dua kali di final Australia Terbuka, yang pertama pada 2011 dalam pertandingan yang secara mengejutkan meskipun kalah dalam tiga set dari Kim Clijsters.

"Aku benar-benar hampir mengambil trofi," kata Li.

"Meskipun saya tidak memenangkan pertandingan, itu masih memberi saya banyak kepercayaan diri."

Li mengatakan kinerja karier terbaiknya tidak datang di Grand Slam, tetapi di Stuttgart, di mana ia mengalahkan Serena Williams 0-6 6-1 6-4 pada 2008.

"Hanya sekali aku mengalahkan Serena," kata Li, tertawa ketika ditanya apakah Williams adalah lawan terberatnya.
 

Berita Terkait