08 July 2019 08:38 WIB
Oleh : eko

Catatan Rudi S Kamri: Bagaimana Bisa Lepas dari Cengkeraman Mafia Bola?

BAGAIMANA perasaan Anda saat lagi seru-serunya menyaksikan pertandingan sepak bola, tetapi mendapatkan informasi bahwa ternyata pertandingan itu sudah diatur skornya oleh orang-orang tertentu, kita sebut saja mafia sepak bola?

Siapa yang bakal menang dan siapa yang kalah bahkan dengan skor berapa, semua sudah diatur oleh para mafia? Rasanya ingin mengamuk, bukan? Kita merasa ditipu dan dibohongi oleh penjahat sepak bola tersebut. Ini ternyata telah terjadi selama puluhan tahun dalam dunia sepak bola kita. “The Godfather” mafia sepak bola Indonesia dan para kroconya seenak sendiri mengatur merah hitamnya persepakbolaan Indonesia untuk kepentingan pribadi mereka. 

 

Untuk kepentingan apa mafia tersebut melakukan "match fixing" atau manipulasi pertandingan sepak bola? Tentu saja untuk kepentingan judi bola yang ternyata melibatkan uang yang luar biasa besar. Sudah bisa diduga virus yang sengaja disuntikkan oleh mafia sepak bola tersebut merusak motivasi para pemain untuk berprestasi maksimal.

 

Sasaran "match fixing" bukan hanya pemain, tapi juga wasit. "Match fixing" bukan hanya merupakan pengkhianatan terhadap sportivitas yang menjadi roh utama pertandingan olah raga, melainkan juga kejahatan terhadap dunia olah raga.

 

Ini mungkin bisa menjawab pertanyaan dari kita semua selama ini mengapa sampai sekarang sepak bola Indonesia tidak kunjung punya prestasi yang membanggakan. Dengan modal sumber daya manusia (SDM) Indonesia sebanyak 260 juta orang, kita tidak akan mampu membentuk "the dream team" (tim impian) selama mafia sepak bola merajalela di Indonesia.

 

Bagaimana peran federasi sepak bola nasional PSSI? Jawabannya sederhana, bagaimana kita bisa membersihkan lantai rumah kita dengan menggunakan sapu kotor? Tidak menjadi bersih, tapi justru semakin kotor. Cerita kebusukan para pengurus PSSI sudah menjadi cerita lama. Mereka tidak menjadi pemecah masalah, tapi justru bagian dari masalah yang harus dibersihkan. Hal ini terbukti dengan ditetapkannya Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono dan beberapa anggota Komite Eksekutif PSSI sebagai tersangka "match fixing" dan perusakan barang bukti terkait “match fixing”.

 

Tragedi "match fixing" juga kita alami saat pertandingan final Piala AFF 2010 di mana Timnas Indonesia “dipaksa” mengalah terhadap tuan rumah Malaysia. Terjadinya campur tangan mafia bola dalam pertandingan tersebut diungkapkan Manajer Timnas Andi Darussalam Tabusalla beberapa waktu kemudian. Kejadian tersebut benar-benar merupakan penghinaan terhadap kehormatan bangsa dan negara.

 

Mengapa mafia sepak bola Indonesia sulit sekali dihapuskan? Menurut penuturan Suhendra Hadikuntono, Ketua Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN), karena melibatkan beberapa "tokoh besar" yang "untouchable" (tak tersentuh), yang dilindungi tokoh besar yang dekat dengan kekuasaan. Penjelasan Suhendra ini diamini tokoh suporter nasional KP Norman Hadinegoro dan beberapa pemerhati sepak bola Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan usaha keras Presiden Joko Widodo membersihkan sepak bola kita dari praktik mafia seolah membentur tembok, karena kemungkinan besar Presiden Jokowi sengaja “dibuta-tulikan” oleh para pembantunya yang merupakan kaki tangan “The Godfather” mafia sepak bola Indonesia. 

 

Itu PR (pekerjaan rumah) besar bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana kita bisa mengembalikan marwah sepak bola Indonesia melalui pertandingan yang penuh sportivitas dan orientasi pada prestasi? Usaha keras dari KPSN yang tanpa pamrih harus kita dukung untuk membongkar habis mafia sepak bola Indonesia. Ini pasti bukan tugas yang gampang karena pengurus PSSI saat ini terlihat tidak kooperatif. Pengurus PSSI selama ini berlindung di balik Statuta PSSI dan Statuta FIFA yang tidak menginginkan campur tangan pemerintah dan pihak luar PSSI. 

 

Pun menjadi pertanyaan besar, mengapa masa kerja Satuan Tugas (Satgas) AntimMafia Bola Polri yang sedang "on fire" memberangus mafia sepak bola dibatasi hanya enam bulan? Mengapa tidak dilanjutkan masa kerjanya sampai tuntas memberantas kecoa-kecoa mafia sepak bola di Indonesia? Hanya Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang bisa menjawab pertanyaan ini.

 

Tapi apa pun yang terjadi, kita sebagai masyarakat Indonesia harus tetap bersuara keras. Di samping berharap tugas mulia KPSN terus berjalan tanpa mengenal putus asa, langkah yang paling strategis adalah membersihkan pengurus PSSI dari oknum-oknum korup yang merusak persepakbolaan Indonesia.

 

Kita berharap dalam Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI yang akan datang terpilih "orang gila yang waras", yang berani membersihkan internal PSSI dan berani melawan “The Godfather” mafia sepak bola. Jangan lagi PSSI dipimpin oleh orang-orang yang menggunakan PSSI untuk kepentingan pribadi dan politik seperti sebelumnya. 

 

Saya tidak tahu siapa "orang gila yang waras" yang bisa menjadi Ketua Umum PSSI, tapi saya pribadi berharap sosok berani, tegas, bersih dan keras seperti Komjen M Iriawan atau Iwan Bule mau turun tangan menjadi Ketua Umum PSSI, dan berani memimpin pasukan untuk menyikat habis mafia sepak bola Indonesia. Dengan dibantu KPSN dan aparat kepolisian yang "steril" dari iming-iming uang, mudah-mudahan sepak bola Indonesia kembali bersih dari virus pengaturan skor dan pada ujungnya ada prestasi yang bisa dibanggakan.

 

Mampukah KPSN dan sosok seperti Iwan Bule melepaskan sepak bola Indonesia dari cengkeraman mafia sepak bola? Kita hanya bisa berharap. Tapi kalau mereka didukung penuh oleh Presiden Jokowi, saya optimis tugas mulia mereka akan tertuntaskan. Dibutuhkan orang nekat, berani dan bersih untuk menyikat habis mafia sepak bola. Kalau tidak, kita akan terus disuguhi pertandingan dagelan yang tidak lucu. Salam satu Indonesia.

 

Rudi S Kamri: Pengamat Sepak Bola.

 

Berita Terkait