07 July 2019 12:52 WIB
Oleh : eko

SSB Pondok Bambu Tetap Konsisten Membina Talenta Muda

Di tengah-tengah menjamurnya Sekolah Sepakbola (SSB) khususnya di DKI Jaya, SSB Pondok Bambu tetap konsisten membina anak-anak asuhanya dari mulai jenjang U-6 hingga U16, meski jalan menuju ke arah sukses pembinaan dipenuhi kerikil tajam.

Menurut Pemilik SSB Pondok Bambu, Eddy Suwito, perjuangannya untuk mencetak talenta-talenta muda sepakbola yang mumpuni itu tidaklah mudah.

"Semenjak saya terjun ke dunia SSB semakin banyak rintangan yang harus saya hadapi. Membina talenta muda perlu perhatian khusus. Apalagi, kami mendirikan SSB ini bukan untuk mencari profit," ungkapnya ketika ditemui di sela-sela pertandingan persahabatan antara SSB Pondok Bambu melawan Jakarta Japan Club (JCC) di Lapangan Pondok Bambu, Jakarta, Sabtu(5/7).

Dikatakan, perhatian yang dimaksudkan adalah perlunya urun tangan dari para stakeholder sepakbola di DKI Jaya mulai dari Askot PSSI Jakarta Timur, Dinas Olahraga, dan Asprov PSSI DKI Jaya untuk membantu meringankan beban para SSB yang ada di DKI Jaya, agar regenerasi pemain tetap bergulir.

"Jujur saja, kami mendirikan SSB bukan bermaksud mencari untung. Tapi, kami ingin mempunyai wadah untuk membentuk karakter anak-anak bangsa melalui olahraga sepakbola. Selain itu, dengan menjamurnya SSB berdampak positif bagi regenerasi para pemain sepakbola khususnya di DKI Jaya. Tapi, perhatian para stakeholder masih sangat kurang," ungkapnya.

Perhatian yang dinilai masih kurang, menurut Eddy, misalnya saja, soal jumlah lapangan sepakbola yang masih minim di DKI Jaya, selain itu sewa untuk memakai fasilitas olahraga yang ada di DKI Jaya masih relatif mahal.

"Bayangkan, kami menyewa lapangan aja sudah dipersulit. Sewanya cukup mahal, padahal SSB kami berdiri dari hasil iuran dari orang tua para pemain. Seharusnya, kami diberikan keringanan harga sewa lapangan, karena toh ini demi majunya sepakbola di DKI Jaya sendiri," keluh Eddy.

SSB Pondok Bambu berdiri sejak 4 September 2013, dan telah memiliki ratusan anak didik dengan pola pembinaan berjenjang. Bahkan, prestasi SSB ini cukup disegani di kawasan Jakarta Timur bahkan tingkat DKI.

"Kami pernah menjadi juara di DKI Jaya, dan kami berharap prestasi ini dapat memacu semangat para anak didik kami dan orang tua mereka yang rela bersusah payah ikut membesarkan nama SSB ini," tandasnya.

Terpisah, salah satu orang tua pemain yang juga pengurus SSB Pondok Bambu, Afis, mereka harus rela merogoh kocek demi kemajuan SSB ini. Pasalnya, meski mereka tidak berharap banyak agar melalui jenjang pelatihan ini putranya nantinya kelak menjadi pemain nasional. Namun, ada sisi lain yang mereka merasa diuntungkan dengan mengikutsertakan putra mereka berlatih sepakbola.

"Yang jelas sisi positifnya banyak, anak kami jadi tidak kecanduan main game online dan yang paling penting adalah olahraga sebagai dasar pembentukan karakter anak kami kelak. Meski, kami tak pernah berhayal suatu saat nanti mereka terpilih jadi pemain Timnas. Jika nantinya takdir menentukan anak kami bergabung di Timnas itu ibarat bonus bagi kami," paparnya.

Terpisah, pembina Klub Sepakbola JJC Football, Mr Yamada dan Mr. Kobayashi menyambut baik dengan terselenggaranya laga persahabatan melawan SSB Pondok Bambu, mereka berharap kerjasama yang telah terjalin akan terus berlanjut kedepannya.

"Kami sama-sama membina sepakbola demi masa depan kemajuan prestasi persepakbolaan di negara masing-masing. Kemajuan sepakbola usia dini tak terlepas dari fokus dan perhatian para stakeholder dan orang tua anak itu sendiri. Kami berharap  laga persahabatan melawan SSB Pondok Bambu terus berlanjut kedepannya," ungkap Mr. Yamada.

Ia juga mengatakan, bertolak dari antusiasme yang cukup tinggi dari pembinaan sepakbola di Indonesia khususnya di DKI Jaya, pihaknya akan ikut membantu kemajuan sepakbola di tanah-air.

"Salah satunya kami akan mendirikan sekolah sepakbola di Jakarta dengan tenaga pelatih langsung dari Jepang. Mudah-mudahan rencana ini bisa terwujud," tandas Mr. Yamada.

Berita Terkait