12 June 2019 13:58 WIB
Oleh : eko

PSSI Buying Time untuk Masukkan Hidden Agenda dan Orang ke KP dan KBP

KETUA Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro mensinyalir, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sedang buying time atau “membeli waktu” untuk konsolidasi internal, memasukkan hidden agenda atau agenda terselubungnya ke dalam revisi Statuta PSSI dan Kode Pemilihan, serta memasukkan orang-orangnya ke dalam Komite Pemilihan (KP) dan Komite Banding Pemilihan (KBP), melalui pengunduran jadwal Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI dari 13 Juli 2019 menjadi akhir Juli atau awal Agustus 2019, dengan berlindung di balik “ketiak” Federation of International Football Association (FIFA).

“Itu akal-akalan PSSI saja untuk konsolidasi internal karena banyak masalah yang menimpa pengurus, dan juga untuk memasukkan hidden agendaserta orang-orang yang bisa mereka kendalikan ke dalam KP dan KBP. Publik tahu, sedikitnya 17 orang pengurus PSSI telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Satgas Antimafia Bola Polri,” ujarnya di Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Konsolidasi, kata Indro, dilakukan PSSI untuk melindungi oknum-oknumnya yang tidak bersih, bahkan untuk menjalankan skenario penundaan KLB sesuai permintaan “bandar”, bahkan ada pihak-pihak yang diduga sedang bernegosiasi agar mereka tetap bisa “menguasai” PSSI. “Kalau KLB-nya sekarang, maka itu akan menjadi ‘neraka’ bagi mereka,” tukasnya.  

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha mengirim surat bernomor 1872/AGB/359/VI-2019 tertanggal 10 Juni 2019 perihal “Penetapan Tanggal Kongres Luar Biasa PSSI”. Intinya, surat yang ditujukan kepada para anggota PSSI itu menyatakan KLB dengan agenda revisi Statuta PSSI dan Kode Pemilihan PSSI, serta Penetapan KP dan KBP digelar pada akhir Juli 2019 atau awal Agustus 2019. Padahal sebelumnya PSSI telah menetapkan KLB untuk empat agenda tersebut digelar pada 13 Juli 2019, dan KLB untuk pemilihan Komite Eksekutif PSSI digelar pada 25 Januari 2020.

Surat PSSI tersebut juga disebut Ratu Tisha untuk menindaklanjuti surat PSSI bernomor 1486/AGB/244/V-2019 tertanggal 2 Mei 2019 perihal “Sirkular Komite Eksekutif PSSI” yang memutuskan KLB dengan empat agenda tersebut akan digelar pada 27 Juli 2019. Sesuai Pasal 30 ayat (3) Statuta PSSI, tulis Ratu Tisha dalam suratnya, undangan dan materi kongres akan disampaikan kepada anggota 4 minggu sebelum tanggal KLB.    

Ratu Tisha berdalih, saat ini revisi Statuta PSSI dan Kode Pemilihan PSSI masih dalam proses finalisasi. Penundaan tersebut, menurut Ratu Tisha, didasarkan atas permintaan FIFA melalui surat bernomor SG/nak/Ini tertanggal 8 Juni 2019 perihal “PSSI Statutes Revision” yang ditandatangani Sekretaris Jenderal FIFA Fatma Samoura, dan diterima PSSI pada 10 Juni 2019.

Pengunduran jadwal KLB tersebut, tegas Indro, jelas merupakan upaya PSSI untuk konsolidasi internal dan memasukkan hidden agenda serta orang-orang kepercayaan PSSI ke dalam KP dan KBP, sehingga pada KLB pemilihan Komite Eksekutif PSSI nanti, mereka tinggal ketok palu. “KLB pun akan menjadi milik dan dikendalikan sepenuhnya oleh rezim PSSI saat ini,” cetusnya.

Seharusnya, kata Indro, revisi Statuta PSSI dan Kode Pemilihan PSSI justru untuk memasukkan aturan yang melarang orang-orang bermasalah untuk kembali berkiprah di PSSI, bukan justru terindikasi untuk meloloskan mereka melalui upaya buying time tadi. Sebab itu, ia meminta semua pihak mengawasi upaya-upaya terselubung PSSI tersebut. “Kita harus kawal dan awasi langkah-langkah terselubung PSSI,” jelasnya.

Di sisi lain, Indro juga mendesak Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN) menuntaskan pemberantasan match fixing atau skandal pengaturan skor pertandingan di tubuh PSSI, agar potential suspect atau mereka yang berpotensi menjadi tersangka, tidak bisa berkiprah kembali di PSSI. “Melalui Satgas, segera tetapkan para potential suspect menjadi tersangka sebelum KLB,” paparnya sambil menambahkan hanya
KPSN yang dipercaya publik sepak bola Tanah Air saat ini.

Berita Terkait