30 May 2019 09:12 WIB
Oleh : eko

Hendardji Supandji: Program Satlak Prima Harus Dihidupkan Kembali

MANTAN Ketua Umum PB Forki dan Pengurus KONI Pusat, Mayor Jenderal (purn) TNI AD Hendardji Supandji mengaku prihatin dengan kondisi pembinaan olahraga prestasi di Indonesia saat ini.

Ketika berbicara panjang lebar terkait perkembangan prestasi olahraga di tanah-air saat ini, ia berharap agar program pembinaan prestasi berjenjang seperti Satlak Prima yang telah mati suri dihidupkan kembali oleh Pemerintah.

Hendardji merupakan sosok di balik meningkatkanya prestasi karate nasional saat menjabat sebagai Ketua Umum Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) 2010-2014. Saat ini, pria 67 tahun tersebut juga menjabat sebagai Ketua Penasihat Federasi Karate Asia Tenggara (SEAKF).


“Saya selalu mengamati perkembangan olahraga di Indonesia. Namun, saya hanya bisa memberi saran dan masukan. Sebab, saya di luar sistem,” kata Hendardji saat ditemui  di ruangannya, Rabu (29/5).

“Yang saya soroti terkait KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) saat ini. Terutama, setelah Satlak Prima (Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas). Ini kan program. Harusnya dilanjutkan. Sebab, bisa memberi banyak manfaat bagi perkembangan olahraga di Tanah Air.”

 

Satlak Prima resmi dibubarkan pada 18 Oktober 2017 karena dinilai tumpang tindih. Namun, Hendardji menilai, Satlak Prima merupakan program yang seharusnya berkesinambungan.

 

“Itu kan program. Bukan organisasi. Memang, pengurusnya harus ramping. Menurut saya, maksimal tujuh orang. Dipimpin Ketua KONI dan Menpora (Menteri Pemuda dan Olahraga) sebagai ketua pengarah. Dengan adanya Satlak Prima, olahraga Indonesia bisa ditingkatkan secara berjenjang,” Hendardji, menambahkan.

 

Dalam kesempatan itu, Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) 2016 ini mengaku, saat ini belum berencana untuk kembali aktif dalam organisasi olahraga. Namun,  ke depannya tidak menutup bagi Hendardji untuk kembali memimpin.

 

Maklum, Hendardji dikaitkan sebagai calon ketua KONI 2019-2024. Bisa dipahami mengingat jabatan yang kini diemban Tono Suratman memasuki fase akhir setelah memimpin dua periode pada 2011-2015 dan 2015-2019.

 

“Yang penting, sistem dijalankan Itu yang utama. Selain itu, harus ada sinergi antara Kemenpora dan KONI. Yang satu perwakilan dari pemerintah dan lainnya seperti LSM yang independen,” ujar Hendardji, optimistis.

Berita Terkait