04 May 2019 19:22 WIB
Oleh : eko

KPSN Desak PSSI Percepat KLB Untuk Memilih Ketua Umum

PULUHAN pemilik suara atau voters PSSI mengaku kecewa dengan agenda Kongres Luar Biasa (KLB) yang diputuskan Komite Eksekutif (Exco), belum lama ini. Oleh karena itu, para voters mendesak PSSI untuk segera menggelar KLB guna memilih ketua umum PSSI yang hingga saat ini, masih kosong.

Sesuai ketetapan Exco, KLB pada 13 Juli 2019 hanya akan menentukan Komite Pemilihan (KP) dan Komite Banding Pemilihan (KBP). Berdasarkan keputusan Exco pula, pemilihan ketua umum PSSI baru akan dilaksanakan pada 20 Januari 2020 melalui Kongres Biasa. Presiden Persijap Jepara Esti Puji Lestari mengatakan, pihaknya berharap proses pemilihan ketua federasi bisa dipercepat. 

Alasannya, kondisi induk sepakbola nasional saat ini sudah tidak normal selepas ketua umum Edy Rahmayadi menanggalkan jabatannya, beberapa bulan lalu. "Usulan saya sebagai voters, agar dipercepat dan jangan diundur-undur. Kami menganggap keputusan Exco tidak efektif," ujar Esti usai mengikuti acara Pra-KLB PSSI yang digagas Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN) di Jakarta, Sabtu (4/5).

Pihaknya juga ingin berkomunikasi dengan PSSI dan meminta penjelasan mengenai situasi sepakbola nasional hingga kondisi federasi teranyar. Namun, upaya itu selalu gagal lantaran PSSI dinilai selalu menutup diri. Oleh karena itu, para voters PSSI rencananya akan berkumpul kembali di Yogyakarta pada 11 Mei 2019 mendatang dan akan mengundang PSSI. "Kami ingin lihat apakah PSSI mau membuka diri dengan kita atau tidak," ungkap Esti. 

Menurut Esti, ada beberapa agenda yang akan dibahas di Yogyakarta nanti, termasuk soal KLB untuk memiilih ketua dan exco. Sementara itu, Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono mengemukakan, langkah KPSN memfasilitasi pertemuan para voters mendapat apresiasi cukup bagus. Buktinya, pemilik suara yang hadir mencapai 40 voter. "Semua kami undang, tidak ada perbedaan dan banyak yang datang," terang Suhendra.

Ketua Asprov PSSI Sulawesi Tenggara, Sabaruddin Labamba menambahkan, para voters harus duduk bersama mencari solusi terbaik menyikapi kondisi saat ini. Setelah Edy Rahmayadi mundur, posisinya digantikan Joko Driyono, selaku Pelaksana tugas atau Plt. Namun setelah ia ditangkap polisi akibat kasus penghilangan barang bukti pengaturan skor, posisinya kini diserahkan kepada Iwan Budianto. 

Berita Terkait