04 April 2019 14:48 WIB
Oleh : eko

Pelapor Kasus Iwan Budianto Misterius

MANTAN  Tim Perseba Super Bangkalan, Imron Abdul Fattah, pelapor kasus match fixing yang diduga melibatkan Iwan Budianto, kini Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), bersikap misterius.

Dihubungi wartawan berkali-kali untuk menanyakan perkembangan kasus yang dilaporkannya ke Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola Polri, Kamis (4/4/2019), Imron tak mau merespons. Padahal, sebelumnya ia terlihat menggebu-gebu, apalagi saat melapor ke Satgas Antimafia Bola di Jakarta, Selasa (9/1/2019).

Saat ditelepon memang terdengar nada dering, tapi tak diangkat. Pesan tertulis yang dikirimkan melalui WhatsApp (WA) ke nomor telepon selulernya, hingga rilis ini dibuat juga tidak dibalas.

Ada dua pertanyaan yang diajukan wartawan secara tertulis kepada Imron. Pertama, sejauh mana laporannya soal Iwan Budianto (IB) sudah ditindaknajuti Satgas Antimafia Bola. Kedua, apakah dirinya berencana mendatangi Satgas Antimafia Bola Polri untuk menanyakan perkembangan kasus yang dilaporkannya tersebut?

Sebab, di luar berkembang spekulasi liar bahwa Imron sudah “dibungkam” pihak terlapor, yakni IB, sehingga ia mendiamkan bahkan ada kemungkinan mau mencabut laporannya ke Satgas Antimafia Bola.

IB, Plt Ketua Umum PSSI pengganti Joko Driyono yang sudah ditahan Satgas Antimafia Bola Polri, diduga terlibat kasus match fixing (pengaturan skor pertandingan) ketika menjabat Ketua Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) tahun 2009. Satgas Antimafia Bola menemukan adanya aliran dana kepada IB dan jajarannya.

Kasus ini bermula dari laporan mantan Manajer Tim Perseba Super Bangkalan, Imron Abdul Fattah, pada delapan besar Piala Soeratin 2009. Saat itu Imron mengucurkan dana Rp 140 juta sebagai setoran untuk menjadi tuan rumah fase delapan besar pada November 2009. Imron pun merasa tertipu. "Waktu delapan besar saya mau dibatalkan (sebagai tuan rumah), mau 'dibuang' (dipindah) ke Persib," kata Imron di Jakarta, Selasa (8/1/2019).

Polisi menyatakan IB bisa menjadi tersangka dalam kasus ini. Namun, polisi masih melakukan proses pemeriksaan lebih lanjut. Polri menegaskan kasus ini sudah naik dari penyelidikan ke penyidikan. Dalam waktu dekat IB akan dipanggil untuk diperiksa. Saat itu IB juga menyatakan siap diperiksa.

Selain IB, kasus ini juga menyeret Manajer Madura United (MU) Haruna Soemitro (HS) yang waktu itu menjabat Ketua Pengda PSSI Jawa Timur. Setoran uang dari Imron prosesnya diduga melewati HS.

Selain match fixing, IB juga diduga terlibat sederet kasus lainnya. 
Pada 2011, IB tersangkut korupsi penyimpangan dana APBD Kota Samarinda tahun 2007-2008 untuk klub Persisam Samarinda. Dalam kasus yang melibatkan mantan Manajer Persisam Aidil Fitri ini, IB disebut menerima uang Rp 600 juta dari APBD itu. Namun, IB menyangkal terlibat.

Selain itu, menantu mantan Walikota Kediri HA Maschut ini juga pernah diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan suap Walikota Batu, Eddy Rumpoko, Oktober 2017. IB bersama Agoes Soerjanto yang saat itu Ketua Pembina Arema FC diperiksa KPK karena dugaan suap pengadaan mebel di Pemerintah Kota Batu tahun anggaran 2017 senilai Rp 5,26 miliar. 

Berita Terkait