10 January 2019 13:00 WIB
Oleh : eko

KPSN Desak PSSI Pecat Exco Terlibat Match Fixing

KOMITE Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN) menggelar pertemuan dengan sejumlah Asprov PSSI. Beberapa perwakilan liga hadir dalam acara bertajuk ‘Menuju Sepak Bola Bersih, Berprestasi, Tanpa Mafia’ di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta.

Diskusi itu menghasilkan dua poin untuk dititipkan ke Kongres Luar Biasa PSSI pada 20 Januari 2019 di Bali.

Diskusi ini memiliki tujuan untuk mendengar aspirasi anggota komunitas sepak bola, yang menginginkan perubahan positif di tubuh sepak bola nasional. Bahkan turut hadir stakeholder diantaranya 11 Asprov dan juga beberapa anggota mewakili klub.

Sejumlah voters PSSI yang hadir dalam diskusi antara lain, Asprov PSSI DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Riau, Sulawesi Tenggara, Lampung, Gorontalo, dan perwakilan klub Madura FC, Aceh United, dan Persiraja Banda Aceh.

Hasil dari diskusi tersebut, memutuskan untuk menitipkan aspirasi kepada pemilik suara dalam Kongres PSSI. Tercatat ada dua poin rekomendasi yang dibacakan oleh Presiden Persijap Jepara, Esti Puji Lestari, yang hadir dalam acara tersebut.

"Pertama, mengusulkan agar anggota Komite Eksekutif PSSI dan pengurus PSSI yang menjadi tersangka kasus match fixing untuk dipecat dengan tidak hormat dalam Kongres PSSI 2019. Kedua, mendorong satuan tugas antimafia bola Polri untuk memberantas secara tuntas praktik match fixing melalui penegakkan hukum yang adil tanpa pandang bulu sesuai dengan kesetaraan dalam hukum," ujar Esti Puji Lestari, di Hotel Bisakara, Pancoran, Jakarta, Rabu 9 Januari 2019.

Sementara Ketua Asprov PSSI, Sulawesi Tenggara, Sabarudin Labamba, mengatakan bahwa sebenarnya diskusi yang dilakukan oleh KPSN ini memiliki tema yang tajam dan memang menjadi gagasan yang diimpikan oleh masyarakat. Bukan hanya itu, masalah sepak bola nasional dari dulu masih sama saja dan ia mengatakan jika memang membutuhkan solusi yang sebenarnya.

“Hasil diskusi hari ini menuju sepak bola yang bersih dan hari ini pun sama intinya yaitu penajaman dari konsep-konsep terdahulu yang memang belum selesai kita bicarakan dan belum menemukan solusinya untuk menyelesaikan permasalahan yang saat ini terus melanda sepakbola nasional. Saya pikir rekomendasi yang kami dapatkan hari ini adalah bagian dari aspirasi seluruh masyarakat Indonesia. Hal ini patut kami apresiasi dan dihormati," tuntasnya.

Berita Terkait