08 November 2018 10:31 WIB
Oleh : eko

PB.PABBSI Butuh Dana Kurang Lebih 6 Miliar

DIBALIK sukses PB.PABBSI melahirkan lifter-lifter yang memiliki prestasi di tingkat dunia, ternyata masih terselip kendala klasik yakni soal terbatasnya dana.

Ya, seperti dituturkan Wakil Ketua Umum PB.PABBSI, Djoko Pramono, biaya untuk mengirimkan atlet ke ajang single event angkat besi dunia yang kalender eventnya berlangsung ketat, atau mirip dengan seri kejuaraan bulutangkis itu butuh dana yang cukup besar.

"Contohnya saja seperti keberangkatan Eko Yuli dan kawan-kawan ke Ashgabat dalam upaya mencari tiket lolos ke Olimpiade 2020 saja kami menghabiskan dana sekitar Rp.2.1 Miliar. Dengan catatan kami menggunakan dana Pelatnas Asian Games 2018 lalu untuk mengirim mereka ke Ashgabat," ungkap Djoko Pramono kepada Sportanews.com, Rabu(7/11) malam.

Dana Pelatnas Asian Games digunakan karena, dalam persiapan menghadapi multi-event itu para lifter hanya berlatih di dalam negeri saja, tidak melakukan try-out ke luar negeri.

" Untuk apa kami try-out ke luar negeri sewaktu persiapan Asian Games lalu,. Pertimbangannya, lebih baik dana itu kami gunakan untuk mengirim mereka ke Kejuaraan Dunia di Ashgabat agar mereka mendapat tiket ke Olimpiade 2020,"papar Djoko Pramono seraya mengatakan pihaknya masih mencari dana sekitar Rp.6 Miliar lagi untuk memberangkatkan para lifter mengikuti seri kejuaraan angkat besi tingkat dunia.

Ia juga mengatakan, saat ini sudah ada empat lifter Indonesia yang telah mendapatkan kuota di Olimpiade 2020 Tokyo, yakni, Eko Yuli, Deni(67 Kg) Sri Wahyuni(49 Kg) dan Acchedya Jagaddhita(59 Kg) yang masuk di peringkat delapan besar dalam kejuaraan itu.

Namun, dikatakannya, pihaknya berupaya untuk meloloskan lifter sebanyak mungkin di Olimpiade 2020 nanti.

"Sekali lagi saya tegaskan, untuk mendapatkannya tidak mudah. Para lifter kita harus rajin mengikuti kejuaraan di luar negeri untuk mengumpulkan poin. Meski, empat atlet sudah lolos, tapi posisi mereka tetap dikuntit oleh atlet negara lainnya jika tidak mengikuti event lainnya sebelum Olimpiade 2020. Apalagi, sistem kuota saat ini berubah bukan lagi Entry by Number tapi Entry by Name," kata Djoko Pramono.

"Tentunya ini memerlukan biaya yang tidak sedikit dan kami berharap mendapat bantuan dari pemerintah untuk membiayai keberangkatan mereka mengikuti seri kejuaraan ini,"  paparnya.

Berita Terkait