22 September 2018 08:18 WIB
Oleh : aba

Tinggalkan Istri & Anak di Cina, Zhang Zhilei Inginkan Duel Perebutan Gelar Kelas Berat

DI sebuah sasana tinju yang tenang di Paterson, New Jersey, beberapa mil dari Manhattan, seorang petinju bertubuh raksasa asyik memukul karung pasir. Paterson tak dikenal sebagai kota penghasil petinju-petinju andal. Dan petinju raksasa itu bukanlah laki-laki bule atau hitam. Kulitnya kuning, sebab ia adalah Zhang Zhilei, petinju asal Cina.

Zhilei, kini berusia 35 tahun, masih menyimpan ambisi besar menjadi seorang juara dunia setelah merebut perak Olimpiade Beijing 10 tahun silam. Ia mengejar impiannya dengan terbang 7 ribu mil dari Zhoukou, Cina, pada 2014 dengan satu tekad, jadi juara dunia.

“Saya datang sendiri,” kata Zhilei yang mengaku meninggalkan istri dan anaknya di kampung halamannya. “Kadang saya rindu kampung halaman dan benar-benar kangen keluarga saya. Tapi, tak perlu ada keluhan.”

Di kota kelahirannya, Zhilei serupa raksasa dan menarik perhatian jika ia berjalan kaki di seputar kota. Tingginya 198,12cm dan berat 117,93kg. Tapi, di AS, ia belum jadi siapa-siapa. Ia juga tak sendirian dengan bobot dan bentuk fisik seperti itu.

“Zhang Zhilei adalah petarung terbaik dunia. Ia punya skill mumpuni,” kata Shaun George, sang pelatih sekaligus manajernya. “Tekniknya bagus, dan akan makin bagus. Yang harus Anda lakukan adalah menghadapkannya dengan petinju terbaik dunia.”

Menurut George, Zhilei kurang mendapat kesempatan. Dan, kini, ZHilei (19-0, 15 KO), akan bertarung 10 ronde pada 28 September melawan Don Haynesworth (15-2-1, 13 KO) di Changsha, Cina.

Di usia 35, Zhilei sebenarnya sedikit frustrasi dengan perjalanan kariernya. Ia kurang mendapat kesempatan dari RocNation, badan kepromotoran di mana ia bernaung secara tak resmi. Ia ‘iri’ pada jago-jago dunia seperti Anthony Joshua, Deontay Wilder, dan Tyson Fury yang bisa meraup jutaan dolar dari pertarungan-pertarungan mereka.

“Saya bisa bertarung melawan mereka semua, tapi maukah mereka melawan saya?” tanya Zhilei yang bertangan kidal. “Itu persoalannya. Mungkin karena saya kurang menjual. Juga underdog. Mereka akan rugi jika kalah dari saya.”

George, 39, tak terlalu sulit melatih Zhilei karena sedikit-sedikit bisa bahasa Mandarin. Ia pernah jadi pelatih tinju amatir Cina pada 2010. Zhilei salah satu anak asuhnya di amatir. Tapi, level bahasa Mandarinnya mungkin baru 4, cukup untuk pesan makanan. Untuk memberikan arahan-arahan kepelatihan, ia tetap butuh seorang penerjemah.

Setelah pertarungan melawan Haynesworth, George mengaku akan bekerja sekuat tenaga mewujudkan impian Zhilei menjadi juara dunia. Juara dunia Joshua jadi salah satu yang diincarnya.

“Saya ingin ini jadi kenyataan. Joshua adalah megabintang, punya nama besar dan sabuk gelar. Tapi, di kelas berat, Anda tak pernah tahu. Satu pukulan bisa mengubah segalanya,” kata Zhilei seraya menghantamkan tangan kirinya ke sansak.

Bum!

Berita Terkait