16 April 2018 06:35 WIB
Oleh : aba

Era Jurgen Klopp, Era Sepakbola Indah ala Liverpool Setelah 30 Tahun Menghilang

DALAM 30 tahun terakhir sejak patokan dibuat. Pada 13 April 1988, Liverpool merebut gelar Divisi 1 (Premier League sejak 1992) setelah mengalahkan Nottingham Forest, 5-0.

Bagi klub yang identik dengan sepakbola atraktif, penampilan mereka tetaplah sesuatu yang indah.

Dalam banyak aspek, saat itu Liverpool tampil paling lengkap dalam 90 menit dan tentunya menjadi tim paling menghibur dalam sejarah Anfield. Bersama Kenny Dalglish, Liverpool menghadirkan penampilan paling komplet pada 1988.


“Pertunjukan paling bagus yang saya saksikan sepanjang hidup saya sebagai pemain dan penonton,” kata Sir Tom Finney.  “Anda takkan bisa lihat yang lebih baik dari itu, bahkan di Brasil. Gerakan yang mereka peragakan fantastis.”

Dalam tiga dakade berikutnya, tak ada tim Liverpool yang bisa menyamai Liverpool 1988. Banyak yang coba menjejaki Dalglish, tapi tak ada yang bisa menyamai. Juga skuad 1995-96 yang digawangi Roy Evans, atau kavaleri Brendan Rodgers pada 2013-14.

Orang kini melihat era fantastis Dalglish pada tim yang dikomandani Jurgen Klopp saat ini di era Premier League. Klopp mampu mengumpulkan pemain-pemain dengan talanta mumpuni dan menghadirkan pertunjukan memikat. Angka-angka juga menunjukkan hal itu.

Gol Roberto Firmino ke gawang Bournemouth yang membawa kemenangan 3-0 Liverpool, itu jadi gol ke-300 Liverpool sejak Klopp tiba. Musim ini, gol-gol Firmino, dikombinasikan dengan gol Mohamed Salah dan Sadio Mane, mencapai angka 82 di semua kompetisi.

“Tiga ratus adalah angka yang besar,” kata Klopp. “Hebat bisa bermain seperti ini. Saya tak tahu soal filosofi saya, karena saya tak pernah memikirkannya. Ini cuma soal memenangkan pertandingan.”

Klopp benar. Tapi di sana ada cara untuk memenangkan pertarungan dan Klopp membangun sebuah gaya di Anfield. Jika pada pertandingan sebelumnya stadion tak disesaki penonton untuk pertandingan melawan tim sekelas Bournemouth, Sabtu lalu Anfield dipenuhi penonton. Mereka ingin melihat cara Liverpool menang, bukan sekadar Liverpool mengalahkan lawan.

Trent Alexander-Arnold

Mereka ingin melihat full-back muda Trent Alexander-Arnold yang berjaga-jaga di belakang bersama Virgil van Dijk, juga kecerdasan kapten Jordan Henderson. Bournemouth benar-benar dibuat tak berdaya sebelum Mane, Mo Salah, dan Firminho, membasahi gawang lawan dengan gol-gol mereka.

“Mereka bermain dengan kepercayaan diri besar, energi, dan dukungan penonton,” kata Eddie Howe, manajer Bournemouth. “Saya lihat mereka terus berkembang. Saya kira, dengan manajer yang mereka miliki, mereka tak bisa tergelincir. Akan ada masa indah di Anfield.”

Howe benar. Mo Salah, khususnya, sudah menjadi ikon The Reds dengan gol kaki kiri dan sundulannya yang atraktif. Mo Salah menjadi pemain Liverpool pertama yang bisa mencapai 40 gol dalam semua kompetisi sejak Ian Rush pada 1987. Mo Salah tak terduga tapi luar biasa,

Menarik menunggu Liverpool setidaknya mengumpulkan enam poin dari empat pertandingan terakhir musim ini untuk memastikan diri lolos ke Liga Champions musim depan.

Tentu saja Klopp menginginkan lebih banyak poin. Termasuk pada laga tandang di kandang Chelsea, 5 Mei. Ia menginginkan ada sejarah yang bisa dicatat.

“Saya senang menyaksikan pertandingan sepakbola,” ujar Klopp. “Tapi saya tak ingin menjadi penghibur atau apapun atau seperti ‘O, kami mendapatkan kesenangan tapi tak memenangkan apapun.’ Saya tahu alasan kami datang ke sini bersama-sama untuk memenangkan sesuatu. Tapi saya kira cara Anda untuk coba melakukannya juga penting.”

“Apa yang akan Anda dahulukan? Anda takkan sukses tanpa memainkan sepakbola bagus. Anda tak bisa menjadi tim terbaik dunia atau punya pemain terbaik. Ya, Anda bisa memainkan sepakbola bertahan –itu mungkin saja. Tapi kami bukan itu atau lainnya, jadi kami memainkan cara kami sendiri. Itu yang akan saya lakukan. Setapak demi setapak.”

Berita Terkait