24 December 2017 17:28 WIB
Oleh : aba

[Catatan Aba Mardjani] Mas Sumohadi Marsis yang Sangat Berjasa Telah Pergi

“Ba! Kamu ikut saya!”

“Ke mana, Mas?”

“Barcelona.”

Penggalangan kalimat itu masih saja saya ingat ketika Mas Sumohadi Marsis mengajak saya untuk meliput Olimpiade Barcelona 1992. Kebetulan, sejak 1991-an saya kursus Bahasa Spanyol yang Alhamdulillah 50 persen dibiayai Tabloid BOLA tempat saya bekerja sejak 1985.

Maka, berangkatlah saya bersama Mas Sumo ke Barcelona dan menjadi saksi mata sukses Alan Budikusuma dan Susi Susanti merebut emas bulutangkis tunggal putra-putri.

Sebagai bos saya di BOLA waktu itu, itu bukan kali pertama saya melakukan tugas liputan bersama Mas Sumo. Yang pertama sekaligus kali pertama saya keluar negeri adalah liputan SEA Games di Bangkok pada 1985. Kami juga didampingi fotografer Zaenal Effendi (almarhum).

Enaknya jalan bareng bos, kami bisa menginap satu malam di Singapura sebelum terbang ke Bangkok, Thailand. Jadi, kali pertama ke luar negeri, saya bisa menginjakkan kaki di dua negara sekaligus, Singapura dan Thailand.

Kali ketiga melakukan liputan bareng Mas Sumo adalah ketika kami berjumpa di Toronto, Kanada pada 1994, untuk meliput Kejuaraan Dunia Bola Basket di SkyDome. Seperti biasa, Mas Sumo berangkat bersama istri tercintanya, Mbak Lisa.

Saat itu, Mas Sumo tetap sebagai Pemimpin Redaksi di Tabloid BOLA, dan saya baru saja keluar ke Harian Gema Olahraga (GO), harian yang kali pertama dipimpin Atal Depari dan Bramono.

Karena Mas Sumo meliput sekaligus liburan, saya pun ikut digeret untuk menemaninya naik ke CN Tower dan sehari kemudian ke Air Terjun Niagara. Mas Sumo juga yang langsung pesan tiket untuk saya.

“Udah, jangan terlalu repot dengan liputan. Kita ke Ontario dulu,” katanya melalui telepon. “Besok kita ke Ontario. Ke Air Terjun Niagara.”

Saat itu, karena Mas Sumo bareng Mbak Lisa, saya dikira anak oleh seorang turis Jepang yang berangkat bareng kami dengan mobil paket wisata. Ketika dijelaskan kami datang dari media berbeda dan ke Kanada untuk liputan basket, si turis Jepang sampai terheran-heran.

“Hanya untuk bola basket kalian datang ke Kanada? Seberapa popular basket di negara Anda?” si Jepang bertanya. Kami mesem-mesem.

Buat saya, Mas Sumo memang jadi seperti orang tua. Mas Sumo juga yang memberikan saya nama ABA MARDJANI.

Saat itu, tahun 1984, saya kebetulan menjadi penulis lepas di Majalah Hai yang dipimpin Mas Arswendo Atmowiloto. Ketika Tabloid BOLA didirikan Kompas, saya pun minta jadi penulis lepas di BOLA. Mas Sumo mengizinkan.

Ketika kali pertama tulisan saya dimuat BOLA, Mas Arswendo meminta saya untuk tetap di Hai dan melarang saya menulis di BOLA.

“Kamu masih mau nulis di BOLA nggak?” tanya Mas Sumo.

“Mau dong,” jawab saya, karena sebagai penulis lepas kan lebih banyak menulis penghasilan lebih banyak.

“Ya sudah. Kamu pakai nama samaran saja.”

Saya setuju. Tapi, saat itu kami tak menemukan nama pengganti dari Abdul Syakur –nama asli saya.

Keesokan harinya, ketika tulisan saya dimuat BOLA, initial yang tertera di akhir tulisan adalah ABA MARDJANI.

“Kenapa ABA, Mas?” tanya saya.

“ABA, Anak Betawi Asli. Bapak kamu kan Mardjani. Jadi ya Aba Mardjani saja,” jawab Mas Sumo enteng.

Jadilah nama itu saya gunakan hingga sekarang.

Kini, Mas Sumo, orang yang bisa disebut sangat berjasa dalam karier jurnalistik saya, sudah pergi untuk selamanya.

Mas Sumo, salah satu wartawan Kompas yang sangat menonjol, wafat pada Minggu (24/12), dalam usia 73 tahun setelah kali kedua dirawat di RS Jantung  Harapan  Kita karena penyakit jantung.

Jenazah Almarhum yang lahir di Kutoarjo pada 8 Juli 1944 itu, dimakamkan sekitar pukul 14.00 WIB ini di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Selamat jalan, Mas Sumo. Semoga Allah mengampuni segala dosa Mas Sumo, dan melipatgandakan pahala dan amal ibadah Mas Sumo. Hingga kapan pun, jasa Mas Sumo takkan saya lupakan.

Berita Terkait